Kekerasan di Negeri Mayoritas Muslim

Kita semua, mungkin, pernah membayangkan, hidup damai dalam negeri yang penduduknya—dalam data statistik—mayoritas Muslim. Setidaknya, karena kita meyakini dengan sepenuh hati, Islam adalah agama yang mampu memberikan kedamaian bagi siapa saja, tentu dalam hal ini, seharusnya dipahami bagi mereka yang secara kebetulan tidak memeluk Islam sekalipun. Tetapi, kenyataan sebaliknya justru kita temukan, hatta yang beragama Islam pun, hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Pasalnya, kekerasan dipilih sebagai jalan mutlak dalam menyelesaikan masalah oleh sekelompok orang—yang katanya mengaku Muslim dan melakukannya dengan mengatasnamakan agama, Islam.

Kita tidak perlu menyebut ulang sederet tindak kekerasan yang terjadi di negeri ini, karena semuanya jelas masih hangat diingat masing-masing. Teraktual, bagaimana kita disuguhi informasi, seorang Inul, didatangi ke tempat tinggalnya, dan diancam hendak diusir jika tetap ngotot menolak Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Seorang Rieke, diancam hendak diperkosa, jika tetap mengkampanyekan sikap anti terhadap RUU APP. Beberapa perempuan yang sedang menyerukan anti Perda Pelacuran di Tangerang, harus mengalami pelecehan seksual, ditarik-tarik jilbabnya, digerayangi oleh kelompok yang datang belakangan. Siapa mereka, semuanya tentu sekelompok Muslim, yang katanya sedang menegakkan moralitas Islam, di Indonesia, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, dengan kekerasan.

Kesempatan kali ini, kita tidak sedang akan memperdebatkan soal RUU APP, karena memang wajar dan selayaknya untuk diperdebatkan, sebagai sebuah produk politik. Ingat, apapun wajah dan isinya, sebuah kebijakan yang dibuat negara adalah produk politik, yang sah-saha saja untuk diperdebatkan, didiskusikan, untuk menemukan titik didih, benarkah, sebuah kebijakan memang diperlukan atau tidak diperlukan oleh warga negara. Yang ingin dipertanyakan, perbincangan dalam sistem kenegaraan yang demokratis, bagaimana mungkin, sebuah perdebatan politik untuk memproduk sebuah kebijakan publik, yang akan mengenai setiap warga negara, untuk menggoalkannya, dibawa dalam ranah kehidupan sehari-hari dengan ancaman dan bahkan tindak kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Banyak pelajaran menarik yang bisa diangkat dari kontradiksi-kontradiksi di atas. Pertama, kita sedang dihadapkan pada sekelompok orang yang sesungguhnya tidak memahami cara hidup dalam sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia. Kita sedang ramai-ramai melupakan adagium yang sejak dulu diakui bisa mempersatukan bangsa ini, bhineka tunggal ika. Cara-cara mau menang sendiri, dari kelompok mayoritas dan mengorbankan kelompok minoritas, yang dilindungi oleh semangat bhineka tunggal ika, sedang dipertontonkan. Kehancuran kehidupan berbangsa Indonesia, saat ini sedang dipertaruhkan. Jika negara tak melakukan apapun, saat ini, pemegang kekuasaan di negeri ini, sesungguhnya sedang membiarkan ruh kehidupan bangsa ini hancur. Maka, pemikiran-pemikiran untuk memisahkan diri dari kebersatuan Indonesia tidak mustahil akan terjadi, bukan karena tidak suka lagi berada dalam naungan sang saka merah putih, melainkan menghindari ancaman-ancaman mayoritas yang tidak bisa memberikan rasa damai kepada minoritas.

Kedua, kita sedang menyaksikan bagaimana aparatus negara, ternyata tidak mampu melindungi warga negaranya sendiri. Apa yang dialami Inul dan Rieki, adalah sebuah ancaman dan serangan terhadap hak pribadi, sebagai warga negara, yang dilakukan secara massal dan dilakukan secara terbuka. Bagaimana tangan-tangan hukum di negeri Indonesia ini, tidak mampu berbuat apa-apa, ketika mengetahui, mendengar dan bahkan sebagian lagi mungkin menyaksikan, sebuah ancaman publik terhadap salah seorang warga negara. Kalau sudah demikian yang terjadi, kita sedang mengalami sebuah proses kehidupan yang gelap dan setiap orang akan berada dalam rasa takut berkepanjangan. Hal ini kedua, jika terus berjalan, sebagian rakyat yang masih jernih pemikirannya, mungkin saja menggugat negara, karena tidak mampu menjamin hak asasi setiap warga negara, untuk hidup dalam rasa aman, damai dan bebas dari rasa takut.

Ketiga, kita sedang dihadapkan pada cara-cara yang salah yang dipilih oleh sekelompok muslim dalam memperjuangkan kebajikan. Tidak ada yang menolak, seluruh warga negera ini, moralitas harus segera ditegakkan, karena memiliki kaitan erat dengan pengembangan mekanisme bernegara yang bersih dan bertanggung jawab. Tetapi, ada satu adagium moral yang sangat dahsyat, dan memang tidak akan pernah dikenal dalam buku-buku sufi atau terbitan lain yang membahas soal kebersihan hati. Kita memandang, adagium ini sangat tepat untuk mencoba mengurai apa yang sedang terjadi dalam konteks kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan tentu surgalah jaminannya. Adagium ini, menegaskan, sebuah tindakan akan mendapatkan maqom kebabaikana manakala dicapai dengan tiga hal kebaikan, [1] didasari oleh niat baik; [2] dengan sumber dana yang baik; dan [3] dengan cara-cara yang baik.

Adagium ini, mungkin tidak ada urusannya dengan pahala atau dosa, tetapi ia menjadi sangat baik untuk mengukur secara sadar mengenai apa yang dilakukan oleh diri kita sendiri, oleh kelompok kita sendiri, dan oleh bangsa ini tentunya. Kalau coba kita terapkan dalam kehidupan keseharian, misalnya, untuk yang bersifat individual. Ibadah haji, merupakan ibadah yang sangat baik, karena menjadi rukum Islam yang kelima. Tetapi, ia akan benar-benar menjadi kebaikan, manakala menunaikannya memenuhi tiga adagium yang baik. Mungkin seseorang sudah mendasari ibadah haji dengan niat yang baik, cara yang dilakukan juga baik, karena memenuhi peraturan yang berlaku, dan berangkat pula bersama dengan jamaah haji yang lain. Tetapi, tidak menjadi tindakan yang baik, manakala, biaya untuk menunaikannya bersumber dari dana korupsi.

Kalau dalam konteks kelompok, kita ambil contoh mereka yang melakukan tindakan kekerasan, baik psikis, fisik maupun seksual. Kita yakini, mereka pasti mendasari tindakannya dengan niatan baik, menegakkan syariat Islam dan moralitas Islam. Mungkin saja sumber dananya baik, karena dari sumbangan-sumbangan masyarakat yang Ikhlas, bahkan sebagian mungkin dari kantong mereka sendiri. Pertanyaannya, manakala tindakan itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik, ancaman, pengusiran, pelecehan seksual, menurut  adagium di atas, tentu saja semuanya menjadi tindakan yang tidak akan menghasilkan kebaikan.

Mungkin, kalau menggunakan terminologi Geertz, penulis akan digolongkan pada kelompok abangan, kelompok yang memahami agama dengan percampuran pada nilai-nilai lokal. Tetapi itu mungkin jauh lebih baik, karena bisa menggunakan rasa untuk mengukur tindakan-tindakan mana yang menyakitkan dan mana yang tidak menyakitkan terhadap sesama. Ketimbang kelompok santri—bukan dalam pengertian mereka yang belajar di pesantren, penggunaannya—yang dimaknai memahami agama sampai ke akar-akarnya, tetapi dalam mengamalkannya menggunakan kekerasan, ancaman, perusakan, dan cara-cara lain yang tidak terpuji menurut kacamata kelompok abangan. Akhirnya, saya berserarh diri kepada Allah, semoga tidak bersalah untuk mempertanyakan, dan semoga saja bisa membuka hati dan pikiran, kita hidup bukanlah untuk saling menang-kalah, tetapi bersama membangun kehidupan yang damai bagi semua.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: