In Memoriam Marianne Katoppo

Sabtu siang tanggal 13 Oktober 2007, di tengah keriangan Idul Fitri, angin sepoi-sepoi terasa sendu di Krematorium Oasis Lestari, Tangerang. Pada sebuah oven, jasad Marianne Katoppo dalam dua jam telah menjadi abu berwarna putih.

Kesenduan dan keheningan bersatu menghantar Marianneberpulang menuju Sang Khalik. Tak ada suara kucing-kucing yangmengantarnya, mahluk hidup yang selama bertahun-tahun menjadi temansetianya. Tak ada isak-tangis yang berkepanjangan. Suasana sunyi danteduh, sesunyi dan seteduh hidupnya. Kepergiannya begitu lain. Sepi,sunyi, damai, dan indah.

Sejumlah kalangan yang mendengar kabar berpulangnya Marianne seakan takpercaya. Bagi saya, kepergiannya sangat mengagetkan dan menyesakkandada. Sebab, seminggu sebelum Marianne berpulang, ia meminta saya datang menengoknya di Bogor, tapi saya tak bisa. Ironisnya, sesungguhnyasejak minggu lalu Marianne sudah setuju untuk menjadi penasihat penulisan cerita dalam film layar lebar yang sedang saya persiapkan, “AshramShanti”. Sebuah film yang direncanakan diputar 8 Maret 2008, padaHari Perempuan Internasional, dan sekaligus bagian dari hadiah HUT ke-65 Marianne.

Perempuan yang dilahirkan di Tomohon pada 9 Juni 1943 itu, memiliki sejumlah sahabat. Sejak 1989, saya membangun persahabatan dengannya, melanjutkan persahabatan ayah dan ibu saya. Bersamaan dengan menguatnya tekanan rezim Orde Baru, Marianne adalah sosok pemberani yang luarbiasa.
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa dalam fase perubahan dari 1990 hingga 1998, Marianne memberikan kontribusi bagi percepatan reformasi secara tak langsung. Tulisan-tulisannya di Suara Pembaruan dalam fase itu dan kehadiran di berbagai forum internasional serta kenekatannya mendirikan Forum Demokrasi (1991) bersama Gus Dur dkk adalah
kontribusinya yang cerdas.

Marianne yang menulis buku Compassionate and Free pada 1979 dan telah memberi pencerahan di mana-mana, memilih teologi perempuan sebagai teologi pembebasannya. Gelar Sarjana Teologi dari STT Jakarta tidak membuatnya sungkan untuk beradu pandangan dengan teman-teman teologIndonesia lainnya yang Strata II dan Strata III.
Sebab, dengan kemampuan lebih dari 10 bahasa, penguasaan pengetahuan filsafat, sejarah, politik, sosial, dan ekonomi, Marianne dikenal kalangan luas. Ia juga terlibat berbagai organisasi, mulai dari sebagai anggota Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (1962-1964,1976-1978), pendiri Kelompok Hapus Hukuman Mati (1980), anggota Pendiri Ecumenical Association of Third World Theologian in Indonesia (1982), anggota United Borad for Christian Education in Asia (1982-1986), anggota Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (1984-1989), dan anggota International Council of World Conference for Religion and Peace (1989-1994).
Teman-temannya bukan saja dari kalangan Protestan, tetapi Katolik dan Ortodoks. Demikian pula dari kalangan Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu, Sikh, Brahmana Kumaris, dan Bahai. Keterlibatannya pada pergumulan pluralisme,  multikulturalisme dan theologiae religionum tetap pada pilihannya pada teologia perempuan sebagai paradigma  berteologia.

Realitas Kemanusiaan

Dalam buku peringatan 50 Tahun Sekolah Tinggi Teologia Jakarta tahun 1984, dengan jelas Marianne mengatakan bahwa diperlukan paradigma baru dalam berteologi, yaitu realitas kemanusiaan dan bukan lagi sekadar pewahyuan dari Allah.  Marianne sangat yakin harusnya realitas kemanusiaan yang terpecah sekarang ini dan menghasilkan kemiskinan, ketidakadilan, ketidakdamaian, kerusakan lingkungan menjadi titik-tolak berteologia agama-agama dalam menyelesaikan persoalan kekinian kita.

Teriakannya yang keras tentang konsep Imago Dei dalam memperjuangkan kesetaraan, persamaan, pemulihan kemanusiaan, dan hubungan yang hancur dimampatkan dalam konsepnya tentang Liberation Theology Toward Full Humanity. Dan baginya, tugas ini bukan melulu pada satu agama tertentu, tetapi pada agama-agama. Oleh karena itu, selain dikenal sebagai perintis pikiran teologi perempuan di Asia, Marianne juga menggunakan teologia perempuan sebagai  karya-karya pembebasan bagi agama-agama menemukan kembali fungsinya sebagai pembebas.
Dalam ranah yang lain, Marianne juga dikenal sebagai seorang novelis dengan kekayaan tema perempuan yang  menyentuh. Sebutlah “Dunia Tak Bermusim” (1976), “Raumanen” (1977), dan “Rumah Di Atas Jembatan” (1981). Bahkan novelnya “Raumanen” diganjar Hadiah Yayasan Buku Utama (1978) dan SEA Write Award (1982). Konon, latar kisah
dalam novel-novelnya banyak diambil dari pengalaman hidupnya dan teman-temannya. Selain itu, Marianne  menerjemahkan karya sastra dari bahasa aslinya ke bahasa Indonesia. Misalnya “Lapar” (Knut Hamsun, Norwegia),  “Malam dan Fajar” (Elie Wiesel, Prancis) dan antologi cerpen India dan Thailand. Namun, karya terbesarnya adalah buku Compassionate and Free. Buku ini ditulis Mei 1979, selama satu bulan dalam bahasa Inggris untuk kepentingan Dewan Gereja-gereja se Dunia. Buku ini telah membawa banyak pencerahan di kalangan perempuan, komunitas dan lembaga di dunia.

Seorang teman saya bercerita bahwa ketika mengikuti sebuah workshop teologi feminis, oleh banyak perempuan Marianne dianggap sebagai inspirasi mereka. Juga bagi beberapa peserta dari negara-negara Timur Tengah. Setelah 28 tahun buku ini ditulis, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dipakai sebagai text book mata kuliah teologi feminis, baru pada tahun ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh sejumlah sahabat perempuannya. Dalam perjalanan pulang kami  semua berujar, bahwa setelah 28 tahun bukunya dibungkam di Indonesia dan raga Marianne telah tiada, buku ini menjadi momentum kebangkitan teologi perempuan Indonesia.

Saat ini, Marianne telah tiada. Marianne tahu masih banyak perempuan yang acap dianggap tak ada, tak perlu ada, dan tak lagi ada. Dianggap “yang lain” itu. Tetapi Marianne telah berhasil menyatakan: “Saya mengklaim hak perempuan untuk dibebaskan dari yang Lain yang mengancam itu. Saya menuntut hak perempuan menjadi Yang Lain dalam seluruh kepenuhannya dan dengan berbagai karunianya–Yang Lain, yang bukan merupakan lawan, deviasi, subordinat dari Diri, melainkan dia yang memberikan makna pada Diri”. Perempuan “Yang Lain” itu telah tiada, dengan kematian “Yang Lain”, tapi kini perjuangan menjadi Diri “pasti lain” jadinya! Marianne, kami akan lanjutkan perjuanganmu!

Aryawirawan Simauw  adalah pekerja seni, hiburan, media dan penyiaran; pendamping orang dengan HIV/AIDS; pendamping perempuan korban kekerasan

[sumber: dari posting di milist perempuan]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: