Bint el Shati’: MUSLIMAH, NOVELIS DAN PEMENANG NOBEL

Gambaran yang paling mudah ditangkap tentang perempuan muslim adalah kondisi terbelakang, tidak terdidik dan sangat tergantung secara ekonomi. Banyak faktor yang bisa dilihat sebagai akar persoalannya, misalnya, sistem budaya yang tidak adil dan menempatkan perempuan dalam posisi yang rendah. Dalam konteks Indonesia saja, baru pada tahun 1923 didirikan sekolah formal khusus perempuan muslim, Diniyah Putri di Padang Panjang. Di kalangan pesantren, lebih ke belakang lagi, karena baru pada tahun 1930, perempuan bisa menjadi santri di Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Keterbelakangan ini, jelas diakibatkan oleh adanya anggapan peran perempuan hanya di wilayah domestik, sehingga muslimah cukuplah belajar membaca Alquran dan tuntunan-tuntunan fikhiyah lainnya.

Berbagai gerakan sosial yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi dan posisi perempuan, bukanlah soal yang mengada-ada, meskipun juga bukan pekerjaan yang remeh-temeh. Jika kembali ke masa hiBint el Shati’ (artinya: anak perempuan pantai) sebenarnya sebuah nama samaran yang digunakan untuk karya tulisanya—nama aslinya Aisyah Abdurrahman—tidak saja untuk mengenang daerah kelahirannya, tetapi juga sebagai taktik, karena pada saat itu, para penulis perempuan memang susah untuk menunjukkan identitas aslinya. Bint el Shati’ memulai karier kepenulisannya dalam usia yang sangat muda, 23 tahun, menjadi penulis kolom tetap di halaman depan Al-Ahram, sebuah harian Arab terkemuka dan termasyhur. Pikiran-pikiran yang dilontarkan tentu saja di luar dugaan banyak orang, tentang kehidupan petani miskin Mesir yang mulai memilih mencari pekerjaan di kota dan menjadi kaum miskin kota. Salah satu kritik pedasnya, sebagai berikut:

Oh, alhamdulillah! Pikirkanlah, berapa banyak makanan yang telah diolah petani Mesir sejak pertama kali menghirup udara segar di Lembah Nil! Berapa kali dia telah buang air di bumi. Tetapi berapa banyak dia telah menguntungkan diri mereka sendiri? Penghasilannya sangat banyak dan melimpah-limpah tetapi semuanya untuk yang lain, bukan untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dia selalu mempersiapkan makanan untuk kerakusan perut kita tetapi tidak untuk menghilangkan dan mengurangi perutnya sendiri … [Dengan kebaikan usaha ini] bumi menumbuhkan beragam buah-buahan yang segar dan makanan-makanan yang bergizi….”
“Mereka datang ke Kairo 2 bulan lalu dan mendapatkan kerja sebagai tukang roti. Pekerjaannya mengumpulkan adonan bahan roti dari rumah penduduk dan membawanya kembali ke mereka beberapa hari kemudian sebagai roti yang sudah jadi. Mereka mengisi tiga piaster dan lima roti yang lezat.”

Menurut Bint el Shati’, kondisi ini disebabkan oleh para Fellah yang hanya mengurusi kepentingan diri mereka sendiri dalam menjalankan kekuasaan. Tulisanya: Para fellah tidak memberi perawatan tetapi untuk kemewahan dirinya sendiri melalui beragam pungutan pajak..” Kemudian, setiap kali habis membayar pajak-pajak ini, dia bertanya, “apakah air mereka telah dimurnikan, sakit mereka diobati, rumah mereka diperbaiki atau anak-anak mereka telah dididik?”

Sebagai perempuan muslim yang memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat sekitarnya, mengkritik tajam melalui tulisan-tulisannya, Bint El Shati juga dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan yang melekat dalam Filsafat Islam, di mana sering diterjemahkan sebagai anti-perempuan. Bahkan untuk mendukung gagasan-gagasannya ini, lebih dari 40 buku tentang sejarah dan struktur Alquran, kritik sastra, selusin novel dan antologi cerita pendek, selain ratusan hasil penelitian, dan kolom dalam surat kabar ia sebarkan untuk membangun kesadaran perempuan. Meskipun ia sendiri memang secara formal tidak tergabung dengan kelompok perempuan—tetapi ia mendukung gerakan perempuan Mesir selama masa revolusi tahun 1919 melawan militer Inggris—karya-karya dan pidatonya telah memberikan kesadaran hak-hak perempuan di kalangan perempuan muda muslim Mesir dalam perjuangan mereka. Ia memenangkan pertempuran dalam memperjuangkan perempuan, tidak dalam pemahaman mengalahkan laki-laki, melainkan melakukan pendidikan kembali. Ia membangun dengan cerdas gerakan perempuan dalam perespektifnya untuk menyampaikan gagasan gerakan perempuan mengenai keadilan dan model-model peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, Bint El Shati sesungguhnya bisa menjadi contoh dari model kerja klasik di masa awal-awal Islam.

Dalam kesehariannya, istri Dr. Amie el Khouli, seorang filosof Islam kontemporer ini, selalu memakai jilbab, tetapi ia tidak pernah memaksa perempuan lain untuk memakai seperti dirinya. Ia menolak keras ide yang dipropagandakan kelompok Muslim bahwa perempuan adalah inferior. Kritisismenya terhadap berbagai gerakan yang menjadikan Islam dinilai tidak ramah terhadap perempuan maupun terhadap kelompok di luar Islam, tampaknya cukup beralasan. Tampaknya, pengalaman masa kecilnya memberikan pelajaran sangat berharga, karena ia berada dalam lingkungan yang sama sekali tidak mendukung peran perempuan dalam wilayah sosial. Ayahnya, adalah guru di institut teologi yang berada di bawah Universitas Islam Al-Azhar. Tetapi, kakeknya, yang menjadi Imam Besar Al Azhar, cukup mendukung cita-citanya, bahkan menyarankan agar tulisan-tulisannya juag dikirimkan ke majalah “al Nahda al Nisaiyah”, sebuah majalah yang diterbitkan untuk mendorong gerakan perempuan di Mesir. Kisah hidupnya, adalah sebuah perlawanan terhadap sistem budaya, sehingga perempuan-perempuan setelahnya tidak akan mengalami situasi seperti dirinya.

Perjalanan pendidikan Bint El Shati sangat bagus. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1929, dan meraih ijazah sekolah lanjutan pada tahun 1934. Sedangkan gelar sarjananya diraih pada tahun 1939 dari Fakultas Sastra Universitas Kairo. Masternya diraih pada tahun 1941 dan Ph.D diperolehnya pada tahun 1951, keduanya dalam bidang sastra Islam. Sejak tahun 1962 ia menjadi Profesor untuk Arabic and Islamic Studies di Universitas Ain Shams Kairo.
Dalam perjalanan kariernya sebagai penulis, Bint El Shati’ melakukan perlawanan keras terhadap kebijakan sensor yang dilakukan oleh pemerintahan militer Nasser. Meskipun demikian, karena kebesarannya dalam bidang tulis menulis ini, ia tetap berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan sastra dari pemerintah dan juga universitas.  Puncaknya ia mendapatkan anugerah Nobel untuk karya-karya sastranya. Perempuan muslimah, intelektual, penulis besar dan sekaligus pembela kaum perempuan ini, meninggal dunia pada tahun 1973, dengan dua anak laki-laki—satunya meninggal dunia, satu anak perempuan. Di atas batu nisan nisan pemakamannya, tertuliskan, ”Novelis Besar Mesir dan Pemenang Hadiah Nobel”.

(Mukhotib MD, Magelang/Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: