Problem Kesehatan Reproduksi Perempuan Pengungsi

Bencana gempa yang disusul dengan gelombang tsunami akhir tahun lalu sudah berlalu satu bulan. Masih tersisa tumpukan-tumpukan sampah yang bercampur-campur-termasuk di dalamnya mayat-mayat korban tsunami-di berbagai daerah sepanjang pantai, seperti di Ulee Aceh bagian timur maupun di Meulaboh, Calang, dan Pulau Nasi, di wilayah Aceh bagian barat.

Upaya pembersihan dan evakuasi mayat masih terus berlangsung, dan masih tidak ada kepastian kapan semuanya bisa selesai. Kita bisa melihat bagaimana hampir seluruh komponen masyarakat dari berbagai daerah, latar belakang, dan bahkan berbagai negara tetangga, bahu-membahu tanpa rasa curiga dan mengancam, melakukan kerja kerelawanan atas nama kemanusiaan.

Beberapa obrolan dengan kelompok muda Aceh memandang itu mungkin sebagian dari “hikmah” bencana yang meluluhlantakkan Tanah Rencong ini. “Hikmah” yang diharapkan akan berlanjut dengan kehidupan damai, di atas penderitaan ratusan ribu orang Aceh yang selamat, dengan hampir kehilangan segala-galanya.

Namun, di tengah-tengah rasa optimis itu ada kemasygulan. Sebagaimana diyakini dalam berbagai sistem yang berlaku, perempuan dan anak tetap menjadi korban paling bawah dalam segala macam peristiwa sosial dan konflik, tidak terkecuali dalam bencana di Aceh ini.

Kehidupan mereka di pengungsian pada akhirnya memiliki risiko yang lebih berat ketimbang laki-laki. Setidak-tidaknya, ada beberapa risiko perempuan pengungsi berkaitan dengan kesehatan reproduksi mereka.

Pertama, perempuan yang menyusui menghadapi problem kesehatan, yaitu tubuh yang semakin melemah. Kondisi ini memengaruhi produksi ASI bagi bayinya. Meskipun sudah terdapat pasokan susu bayi yang memadai, anak-anak yang selama ini terbiasa menyusu ASI, terlebih soal batasan susu formula yang harus disesuaikan dengan usia bayi, faktual sering tak terperhatikan lagi. Bukan tidak mungkin hal ini akan bermasalah bagi bayi itu sendiri dalam jangka panjang.

Kedua, perempuan yang sedang mengandung akan menghadapi masalah kurang gizi dan memengaruhi stamina tubuhnya. Kondisi ini sangat membahayakan kesehatan perempuan dalam proses kehamilan karena bisa terancam pendarahan hebat dan keguguran. Selain itu, mungkin juga mengalami pecah ketuban yang jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan infeksi bagi perempuan dan bayinya. Pendarahan yang hebat dan tidak segera ditangani juga akan mengakibatkan kematian bagi perempuan.

Ketiga, perempuan yang sedang mengalami menstruasi. Lima hari setelah bencana, perempuan pengungsi mengalami kesulitan mendapatkan pembalut karena kebutuhan ini tidak terpikirkan secara dini. Ketiadaan pembalut memaksa mereka menggunakan kain seadanya untuk mencegah merembesnya darah ke pakaian yang mereka kenakan. Tetapi, karena kain yang digunakan tidak higienis, pada akhirnya mengakibatkan iritasi di wilayah vagina.

Keempat, perempuan di pengungsian juga rentan dengan pelecehan seksual. Semakin berlama mereka di dalam pengungsian akan sangat mungkin berlanjut pada tindak perkosaan. Pemahaman ini sering kali dianggap “gila” ketika dilontarkan kepada beberapa kalangan. Tetapi, tindak pelecehan seksual dan perkosaan sering kali terjadi tidaklah pernah mempertimbangkan rasa duka maupun belas kasihan.

Persoalan-persoalan kesehatan reproduksi perempuan di atas memang masihlah bersifat kebutuhan kesehatan fisik. Tetapi, itulah yang masih sangat mungkin mendapatkan perhatian pada masa-masa darurat sekarang. Setidak-tidaknya, persoalan di atas harus mendapatkan perhatian dalam rentang awal penanganan pengungsi untuk jangka waktu tiga bulan mendatang. Tanpa perhatian spesifik, perempuan akan mengalami banyak persoalan setelah penanganan bencana gempa dan gelombang tsunami memasuki masa rehabilitasi atau relokasi kembali ke dalam suatu tatanan masyarakat sebagaimana semula.

PENANGANAN kesehatan fisik ini sudah harus segera didesakkan. Untuk menghindari pelecehan seksual dan perkosaan terhadap perempuan dan anak perempuan, misalnya, seorang tokoh dayah (pesantren) mengusulkan sudah saatnya dipikirkan melakukan pemisahan tenda pengungsi antara laki-laki dan perempuan. Menurut dia, hal ini juga sangat sesuai dengan Aceh sebagai wilayah yang menegakkan syariat Islam.

Pihak-pihak yang memasok logistik untuk bantuan pengungsi sudah saatnya memikirkan kebutuhan spesifik perempuan, seperti pembalut, vitamin khusus untuk perempuan menyusui, dan vitamin penambah darah. Selain itu, secara serius para relawan, terutama relawan medis, untuk mengidentifikasi perempuan yang menyusui dan hamil mendapat perawatan intensif. Misalnya, dengan menyediakan data spesifik mengenai perempuan yang menyusui dan hamil di setiap pengungsian sehingga mereka akan bisa mendapatkan penanganan dan perawatan kesehatan secara spesifik dan cepat.

Secara psikis dan sosial, perempuan pengungsi harus mendapatkan konseling khusus untuk mempersiapkan diri memasuki kenyataan-kenyataan ke depan. Misalnya, kenyataan bahwa mereka akan menjadi kepala rumah tangga setelah mereka kehilangan seluruh harta miliknya, termasuk kehilangan suami, yang secara tradisional di Aceh masih memegang peranan penting dalam sektor ekonomi.

Konseling semacam ini dilakukan selama mereka dalam pengungsian sehingga kesiapan mereka menghadapi kehidupan sosial selepas dari pengungsian bisa dilakukan secara dini.

Bagi media massa, sudah saatnya memberikan porsi yang cukup besar dalam laporan berkaitan dengan persoalan-persoalan kesehatan reproduksi perempuan di pengungsian. Liputan dengan porsi besar ini akan membantu pihak-pihak lain yang memiliki perhatian dalam pemenuhan hak dan kesehatan reproduksi perempuan di pengungsian.

Sebagaimana luas diketahui, banyak pihak ingin melakukan sesuatu terhadap masalah-masalah yang dihadapi pengungsi-termasuk soal kesehatan reproduksi perempuan. Tetapi, tidak jarang ketidaktersediaan informasi dan data yang cukup di daerah pengungsian menjadikan tindakan mereka menjadi tidak efektif dan terkadang bertumpang tindih antara satu dan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: