Penempatan ATM Kondom Tak Sembarangan

KONTROVERSI Condom Vending Machine (CVM) atau ATM Kondom di Yogyakarta mengundang perhatian Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum (PSH FH) UII untuk mengadakan polling. Untuk keperluan tersebut, pihaknya melibatkan 1.000 responden. Mereka terdiri pelajar (150 orang), mahasiswa (300 orang) dan masyarakat umum (550 orang).
Hasilnya, sebanyak 63 persen responden menolak keberadaan ATM Kondom di Yogyakarta. Alasannya, berdampak negatif, semata mendukung prostitusi dan rawan penyimpangan. Sedangkan, 27 persen responden menyatakan setuju untuk mencegah penularan HIV/AIDS, mendukung program KB, sebagai fasilitas wisatawan lokal atau asing, mengurangi aborsi serta untuk kemudahan.

Hasil polling itu, Rabu (8/2) dipaparkan dalam sebuah diskusi yang dihadiri Dra Anik Rahmani MS (Kepala BKKBN DIY), Mukhotib MD (PKBI DIY), Zairin Harahap SH MSi (Pakar Kebijakan Publik UII) serta Dr Mustakim SH MHum (Kepala PSH Fakultas Hukum UII), di ruang kuliah S3 Fakultas Hukum UII, Jalan Tamansiswa.
Menurut Dr Mustakim SH MHum, ada beberapa saran terkait dengan hasil polling itu, di antaranya Pemerintah Kota (Pemkot) sebagai pemilik kebijakan seharusnya mendengarkan aspirasi masyarakat, sehingga kebijakan yang dikeluarkan dapat diterima.
Bagi BKKBN langkah yang paling tepat untuk mendukung program KB adalah dengan penyuluhan. ”Untuk masyarakat umum agar lebih menngkatkan pengawasan dan pendidikan, baik moral maupun agama terhadap diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Pernyataan senada juga dikemukakan Zairin Harahap SH MSi, yang meminta agar kebijakan publik bisa memberikan solusi permasalahan, bukan malah menambah masalah. Jika dikatakan salah satu fungsi ATM Kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS (padahal penyebab HIV/ AIDS tidak hanya dari hubungan seksual), maka ATM Kondom bukan satu-satunya solusi pencegahan HIV/AIDS.

Ditambahkan Zairin, kebijakan tentang ATM Kondom ambivalens dengan upaya Pemkot Yogya untuk memperbaiki citra sebagai kota budaya dan pendidikan. Saat ini Pemkot sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, salah satunya dengan membuat Perda tentang Pondokan. Jika ATM Kondom belum dipikirkan secara matang serta belum ada kepastian tentang penempatan dan tidak selektif dalam penggunaannya, menurut Zairin, citra Yogya bisa kembali terpuruk.

Mukhotib MD dari Koordinator Jaringan Advokasi Kesehatan Reproduksi Remaja (JAK2R) PHD PKBI DIY, menilai dalam mensikapi pro kontra ATM Kondom harus dengan kerangka pikir terbalik. ”Secara faktual sebenarnya susah untuk mengajak orang memakai kondom, sebenarnya yang terpenting itu bukan alatnya, tetapi substansinya, yakni untuk pencegahan penularan HIV/AIDS dan jangka panjang untuk menngkatkan pendidikan tentang kesehatan reproduksi di sekolah,” terangnya.

Sementara Kepala BKKBN, Dra Anik Rahmani MS, meluruskan kembali tentang rencana ATM Kondom yang kini mengundang banyak reaksi. Menurutnya, CVM merupakan kebijakan dari pemerintah untuk dual protection sebagai alat kontrasepsi dan perlindungan terhadap penyakit menular seksual (PMS), salah satunya HIV/AIDS. Sebab, di Yogya sendiri jumlah penderita HIV/ AIDS cukup banyak. Tahun 2005 ada 187 penderita, padahal tahun 1995 hanya 2 orang.

Di DIY, ada tiga ATM yang diberikan pemerintah melalui BKKBN. ATM itu rencananya ditempatkan di Klinik KB RS Dr Sardjito, Klinik Perusahaan GE Lighting Sleman dan untuk keperluan sosialisasi BKKBN. ”Penempatannya tidak sembarangan dan kedua tempat yang diusulkan tersebut masih dalam tahap konfirmasi. Untuk penggunanya melalui rekomendasi dan di bawah pengawasan dokter, sehingga tidak bisa sembarang digunakan masayarakat, kalau kliniknya tutup juga tidak bisa menggunakan alat tersebut,” papar Anik. (*-10/Obi)-z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: