Korban Gempa Butuh Pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Seksual

YOGYAKARTA–MIOL: Korban gempa bumi di DIY dan Klaten, Jawa Tengah membutuhkan pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual terutama masalah pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan keluhan di bagian alat vital wanita.

“Dua bulan pascagempa, ada ancaman-ancaman laten atas kesehatan reproduksi bagi korban gempa, terutama di Kabupaten Bantul, padahal perhatian tentang masalah ini sangat kurang. Puskesmas setempat yang kebanyakan rusak tidak menjamin dapat memberikan layanan semacam ini,” kata Direktur Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta, Mukhotib MD SAg, Jumat.

Korban gempa bumi saat ini masih tidur di tenda dengan berbagai ancaman virus dan kondisi sanitasi yang buruk. Ini merupakan salah satu pemicunya. Selain itu, stres juga dinilai menjadi faktor utama munculnya gejala-gejala itu.

Dalam rekaman klinik keliling darurat PKBI selama lima hari pascagempa, kurang lebih 20 persen pasien mengalami gejala gatal-gatal pada kemaluannya.

Selama warga masih tinggal di tenda, keluhan akan kesehatan reproduksi semacam itu akan terus bermunculan, bahkan bisa merebak dan mewabah.

“Apalagi informasi mengenai pentingnya kesehatan reproduksi juga sangat minim, sehingga banyak orang yang tidak menyadari sejak dini bahwa dirinya telah mengalami gangguan,” kata dia.

Kekhawatiran itu cukup beralasan karena pada program klinik keliling PKBI hanya menunjukkan angka 5,26 persen yang mengeluhkan kesehatan reproduksinya dari 19.941 pasien korban gempa yang dilayani selama satu bulan mulai Juni hingga Juli.

Sekitar satu persen dari jumlah tersebut membutuhkan KB yang mayoritas menggunakan KB suntik, empat persen lebih mencakup permintaan pelayanan cek kehamilan, keluhan haid, keputihan, gatal-gatal, bahkan ada gejala terjadinya infeksi menular seksual.

HIV/AIDs menjadi ancaman serius yang patut diwaspadai pula. Misalnya, banyaknya posko kesehatan yang sangat sibuk melayani pasien sering melupakan standar kewaspadaan universal yang bisa jadi menularkan virus lewat alat medis yang tidak steril.

Selain itu konsumsi narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) pada remaja yang mengalami trauma psikis melalui media jarum suntik.

“Puskesmas setempat merupakan tumpuan utama dalam penanganan kesehatan warga Bantul, tetapi masih perlu didukung oleh kesiapan tenaga medis, sarana dan prasarana serta fasilitas layanan yang memadai dan terpadu termasuk pada kesehatan reproduksi remaja,” katanya.

Karena itu pihaknya menyerukan agar pemerintah memfokuskan pembangunan sarana layanan kesehatan publik dengan mengembangkan layanan kesehatan reproduksi terpadu berbasis puskesmas.

Pemerintah harus memberi perhatian serius terhadap pengembangan model komunikasi informasi dan edukasi dengan menggunakan media komunitas sehingga lebih efektif dan mudah diterima masyarakat.

“Pemerintah juga harus mengembangkan kebijakan mengenai kesehatan reproduksi khususnya untuk membebaskan warganya dari ancaman infeksi menular seksual dan HIV/AIDS,” katanya.

Pihaknya juga meminta seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam gerakan pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual terutama bagi kelompok miskin dan marjinal.

Sementara itu, Manajer Program ‘Youth Center’ PKBI, Supri Cahyono mengatakan, pihaknya mendorong masyarakat untuk kritis terhadap segala sesuatu yang dialami serta menyampaikannya kepada pihak terkait DPRD dengan cara yang bijak. (Ant/OL-01).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: