Kampanye Kesehatan Reproduksi Remaja Dengan Film

Masyarakat Indonesia, disuguhi tiga perhelatan besar di bidang perfilman di bulan Desember 2004, tak ubahnya seperti hadiah akhir tahun saja, Jakarta International Film Festival (JiFFest), Festival Film Indonesia (FFI) dan Festifal Film Dokumenter Indonesia (FFDI). Tetapi, jika mengamati seluruh proses film yang diputar dan akan diputar di tiga kegiatan itu, kita hanya bisa menemukan dua buah film yang mencoba menawarkan soal kesehatan reproduksi remaja. Pertama, sebuah video berdurasi tujuh menit dengan judul Sorot Sani… ah.., karya M. Yusrizal/Teri Eka Santoso. Karya ini menggambarkan sosok Saniah, seorang remaja putri yang biasa mengamen di jalanan. Di balik wajahnya yang lugu, ternyata Saniah mengalami masalah kesehatan reproduksi akibat pernikahannya di usia 13 th. Kedua, video berjudul Remaja dan Reproduksi karya Irman Pambudi, dengan durasi tujuh menit. Video ini menceritakan pengalaman remaja menghadapi menstruasi, perubahan hormon, onani dan masalah seks lainnya.

Apa yang ditawarkan oleh dua video di atas, sungguh sangat menarik, karena mencoba mengungkap berbagai persoalan aktual yang sangat keseharian dihadapi oleh para remaja, tetapi hampir tidak mendapatkan ruang dan perhatian dalam layanan kesehatan yang ada selama ini. Tidak jarang, remaja mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, seperti cerita dari mulut ke mulut di antara mereka sendiri, seperti onani bagi laki-laki akan mengakibatkan tulang menjadi kropos, melakukan hubungan seksual, jika hanya sekali tidak akan mengakibatkan kehamilan, dan sebagian lagi justru merasa ketakutan, karena berciuman bibir akan mengakibatkan kehamilan. Blunder semacam ini terjadi, tidak saja karena ketiadaan layanan dan informasi bagi remaja, tetapi juga karena terganggunya komunikasi antara anak remaja dan orang tua, akibat anggapan tabu untuk memperbincangkan soal-soal sistem, fungsi dan alat reproduksi.

Ketidaktahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi akan membawa akibat yang serius, seperti remaja akan mengalami kehamilan tidak dikehendaki (unwanted pregnancy), yang dalam sistem dan nilai di Indonesia, berarti petaka berkepanjangan. Turunan dari persoalan ini, remaja bisa terjebak dalam tindakan aborsi tidak aman (unsafe abortion) yang ujung-ujungnya tidak mustahil akan menelan jiwa remaja itu sendiri. Dengan demikian, sudah saatnya, untuk mendorong dan mendesak negara untuk memberikan perhatian serius terhadap kesehatan reproduksi remaja, misalnya, dengan kebijakan mengembangkan friendly clinic system yang dikembangkan di setiap pelayanan kesehatan yang ada. Dalam tingkat kultural, penting dilakukan untuk mendudukkan kembali persoalan ‘tabu’ dalam tempat yang semestinya, dan memahamkan kesadaran baru, pendidikan kesehatan reproduksi, bukanlah pelajaran untuk melakukan hubungan seks.

Upaya mendesak negara dan melakukan perubahan kultural di atas, juga bukan sebuah pekerjaan yang sederhana. Dalam posisi inilah, film sesungguhnya bisa mengambil peranan penting sebagai alat untuk melakukan desakan kebijakan, membangun kesadaran kultural, dan sekaligus sebagai bagian dari alat pemberian layanan informasi yang efektif. Tetapi jika melihat fenomena tiga peristiwa perfilman di atas, dari ratusan film/video yang diputar, ternyata kita hanya menemukan dua judul saja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja. Kenyataan ini, sudah seharusnya menjadi agenda refleksi bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk melakukan pembelaan terhadap pemenuhan hak kesehatan reproduksi.

Ada beberapa soal yang bisa diajukan, untuk menjawab kelangkaan film/video mengenai kesehatan reproduksi remaja jarang atau bahkan sulit ditemukan. Pertama, kesehatan reproduksi remaja belum dianggap sebagai persoalan serius, termasuk oleh insan perfilman itu sendiri. Kalau kita percaya, karya seni—salah satunya film/video, seringkali merupakan cerminan dari zaman pada saat karya itu dilahirkan, maka ketiadaan film/video yang mengangkat soal kesehatan reproduksi, merupakan jawaban tak terbantahkan dari sepinya perhatian negara dan masyarakat terhadap kesehatan reproduksi. Kedua, elemen masyarakat yang mencoba melakukan perjuangan hak kesehatan reproduksi remaja belum menanggap penting dan efektif, film/video bisa dijadikan alat kampanye yang efektif untuk mengubah kesadaran publik mengenai hak kesehatan reproduksi remaja. Ketiga, pelaku advokasi hak kesehatan reproduksi, juga bisa dimungkinkan memiliki persepsi film/video merupakan produk yang mahal, sehingga tidak memungkinkan untuk mereka lakukan dengan keterbatasan dana yang mereka miliki.

Film/Video Komunitas

Mensikapi realitas kelangkaan film/video tentang kesehatan reproduksi, sudah saatnya mendorong para filmmaker untuk mengembangkan tema-tema kesehatan reproduksi remaja dalam karya-karya mereka. Model ini mencoba memberikan penawaran yang lain mengenai entitas film/video dalam kontek perubahan kebudayaan, yaitu, film/video tidak hanya sebuah cerminan, tetapi juga bisa berperan sebagai cultural driver atau cultural trend setter dalam perubahan sosial. Maknanya, dengan semakin menguatnya film/video mengangkat tema ini, bisa memberikan pengaruh pada pergeseran paradigma masyarakat dan negara mengenai kesehatan reproduksi. Sayangnya, film ‘Buruan Cium Gue’—ini bernasib lebih sial, karena benar-benar ditarik dari peredaran—dan ‘Virgin’, buru-buru mendapatkan kutukan massal, dengan cap-cap moralitas yang tidak rasional.

Menghadapi fenomena kedua, harus dimulai gerakan peyakinan kembali di kalangan aktivis hak kesehatan reproduksi, film/video merupakan media efektif untuk melakukan kampany publik, karena watak bawaan film/video yang tidak mengenal persyaratan literasi bagi penikmatnya, dan memiliki kekuatan persuasi yang sangat tinggi. Dengan demikian, pesan-pesan kesehatan reproduksi yang disampaikan dalam film/video, akan sangat kuat memiliki pengaruh.

Sedangkan soal yang ketiga, harus mulai diintroduksikan, pembuatan film/video sebagai alat kampanye bukan sebuah agenda kegiatan yang mahal dan glamour. Model-model pengembangan film/video komunitas, akan menunjukkan, betapa film/video sangatlah murah dan pasti terjangkau oleh anggaran-anggaran dana yang terbatas sekalipun. Asumsi mahal dan glamour, karena dalam benak kita, ketika berbicara film/video, yang buru-buru hadir adalah para artis beken yang harus dibayar mahal. Memproduksi film/video komunitas, tidak saja biaya yang murah, melainkan juga proses produksi itu sendiri merupakan sebuah mata rantai dari pendidikan kritis di kalangan komunitas itu sendiri. Sebab nalar film/video komunitas, adalah sebuah film/video yang sejak awal, mulai dari perencanaan dan produksinya dilakukan oleh komunitas, peran-peran dalam film/video itu sendiri, akan dimainkan oleh komunitas juga. Sebagai media kampanye, mdeol film/video komunitas akan memiliki efek yang jauh lebih kuat ketimbang film/video yang dimainkan oleh artis. Nalarnya, film/video itu merupakan suara langsung dari para pemainnya, dalam menuntut kepentingan-kepentingan mereka. Dalam konteks kesehatan reproduksi, film/video komunitas remaja, berarti akan menunjukkan bagaimana pandangan-pandangan, persoalan-persoalan, dan tawaran-tawaran keluar dari blunder seputar kesehatan reproduksi remaja, akan tersajikan, seperti apa yang ada dan berkembang utuh dalam diri remaja itu sendiri. Dalam konteks inilah, kita yakin benar, film/video, di samping murah sebagai alat kampanye kesehatan reproduksi, juga efektif untuk melakukan perubahan dan menyuarakan kepentingan remaja.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: