Geger NU Atawa Geger Media?

Suasana politik menjelang pelaksanaan pemilu Presiden 5 Juli 2004 mendatang tampaknya akan semakin panas saja. Sebenarnya, grengseng suasana kampanye pemilu Presiden tidak akan terlalu ramai begitu rupa dan melibatkan banyak komponen masyarakat, jika saja beberapa kiai Jawa Timur, minggu silam, tidak mengeluarkan fatwa tentang keharaman memilih presiden perempuan. Silang sengkarut pandangan dan sikap terhadap fatwa itu berhamburan di hampir setiap media. Tidak saja berbagai tulisan melalui media, juga sudah dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan oleh beberpa komunitas yang anti terhadap tindak diskriminasi terhadap perempuan. Sebagian melakukan tindakan jap jempol darah, yang katanya sebagai simbol mati-matian untuk membela calon presiden ditengarai dirugikan atau diserang oleh fatwa itu. Majlis Ulama Indonesia, melalui Din Syamsudin, menyatakan tidak akan mengeluarkan fatwa berkaitan dengan fatwa kiai Jawa Timur itu (Kompas, 8/6-2004).

Para pengamat, tampak juga sudah begitu aktif melibatkan diri dalam perbincangan hangat ini, mulai dari yang menyoroti soal fatwanya, sampai yang mengamati lebih jauh, dengan mengaitkan melebarnya konflik dalam tubuh NU. Azyumardi Azra adalah salah satu tokoh yang memberikan perhatian pada lahirnya konflik dalam tubuh NU berkaitan dengan fatwa tersebut. Bahkan rektor UIN Jakarta ini, sampai meminta Sahal Mahfudz (Rois Am Syuriah PBNU) dan Masdar Farid Mas’oedi (Pelaksana Harian Tanfidziyah PBNU) untuk turun tangan, karena menurutnya, konflik ini akan berubah menjadi konflik fisik dalam masyarakat.

Membaca media dan mencermati pandangan-pandangan para pengamat—yang tentu saja juga sangat politis ini—suasananya tampak sudah sangat gawat. Telah terjadi geger di tubuh NU yang sedikit lagi akan membawa pada sebuah bencana nasional, konflik fisik horisontal. Luar biasa. Konflik besar yang akan melibatkan begitu banyak orang, pendukung Mega-Hasyim kontra dengan pendukung Wiranto-Sholahuddin. Mengiktui skenario ini, maka akan terjadi perang saudara antara nahdliyin pendukung Hasyim dan nahdliyin pendukung Sholahuddin.

Tetapi kita yakin, perbedaan pendapat berkaitan dengan fatwa pengharaman presiden perempuan, bukanlah persoalan yang akan membawa pada sebuah konflik fisik, berdarah-darah. Kalangan nahdliyin sudah begitu kenyal dengan pertentangan-pertentangan pendapat dari elite mereka. Bukan soal aneh, mereka menerima satu ajaran dari seorang kiai untuk dilaksanakan, dan dalam waktu yang lain, mereka mendapatkan larangan terhadap ajaran tersebut. Secara kultural kalangan nahdliyin sudah begitu kenyal dengan persoalan tersebut, dan mana yang akan mereka lakukan akan kembali pada pertimbangan nurani mereka, berkaitan dengan baik dan buruknya.

Coba kita ambil contoh yang sangat ekstrem dan akrab dengan rakyat, kiai di mana saja, dalam kesempatan apa saja, tidak ada yang pernah mengatakan membeli togel boleh hukumnya, mereka semua mengharamkanya. Tetapi, kita bisa menemukan fakta, bisnis nomor ini juga tetap tumbuh dan bertambah subur saja. Rakyat membeli dan tidak membeli togel, tidak semata-mata karena soal ketaatan dan ketidaktaan dengan ujaran kiai, tetapi berkelindan dengan persoalan kemiskinan yang sangat akrab dengan kehidupan mereka. Togel—ini hampir sama dengan sinetron—menjadi katarsis dan media eskapis dari penderitaan sehari-hari mereka. Mereka ingin membangun mimpi-mimpi indah dalam kehidupan. Hal yang sama terjadi dengan kasus fatwa bunga bank haram dari komisi hukum MUI beberapa waktu lalu. Media dan para pengamat begitu ramai membincangkanya, sekana-akan berkait langsung dengan persoalan kesejahteraan dan kemiskina rakyat. Tak ada yang mempersulikannya, bank konvensional tetap saja berkembang dengan bunga yang mereka kenakan kepada dana-sana simpanan masyarakat. Bank Syari’ah juga tetap jalan seperti biasa, meskipun, seakan-akan bank inilah yang mendapatkan keuntungan dari fatwa haramnya bunga bank.

Berdasarkan pada kedewasaan masyarakat yang terus berkembang berbasis pada pengalaman mereka, sangat berlebihanlah seluruh asumsi perbedaan pendapat yang sesungguhnya sederhana itu, digambarkan akan menjadi konflik atau bahkan geger di tubuh NU yang akan meluas menjadi konflik horisontal tak terkontrol. Produksi wacana seperti inilah yang sesungguhnya justru akan memicu terjadinya konflik, bukan kesederhanaan persoalan itu sendiri.

Selain pada basis keyakinan kedewasaan kalangan nahdliyin, tradisi mendiskusikan tentang wacana kepemimpina perempuan di kalangan nahdliyin juga sudah cukup lama dan mendapatkan tempatnya di tubuh NU. Organisasi semacam Muslimat NU, Fatayat NU, LAKPESDAM dan berbagai organisasi lain yang digerakkan oleh kaum muda NU, sangat akrab dengan perbedaan wacana yang bersumber dari ajaran kitab-kitab kuning di pesantren. Munas Alim Ulama NU tahun 1997 yang salah satunya memutuskan tentang kebolehan pemimpin perempuan, merupakan bukti diterimanya gagasan kepemimpinan perempuan di NU di samping menjadi basis legitimasi yang jauh lebih kuat, ketimbang sekedar fatwa beberapa kiai di Jawa Timur.

***

Dengan pemikiran ini, bersanding dengan seluruh imajinasi tentang konflik fisik akibat fatwa sebagaimana yang tergambar, menuntut kita berpikir ulang terhadap watak media massa kita. Beberapa tahun lalu, gambaran yang sangat gawat dalam media massa juga terjadi dalam peristiwa dilengserkanya Gus Dur dari kursi presiden. Dalam amatan Hotman A. Siahaan, sosilog dari Universitas Airlangga Surabaya, media waktu itu benar-benar sukses membangun imajinasi perang yang laur biasa dan melahirkan ketakutan-ketakutan. Dampak fakta media semacam ini, tentu saja bukan berarti tanpa pengaruh dalam masyarakat. Ketakutan yang mencekam dan kekhawatiran yang berlebihan tentang konflik akan membawa sikap masyarakat untuk memilih jalan yang bersifat menghindari pilihan-pilihan yang sangat kontra-produktif dengan semangat demokrasi. Dalam kasus Gus Dur, masyarakat lebih memilih untuk mengalahkan Gus Dur, dan bersetuju dengan pilihan MPR RI melengserkannya dan mengangkat Megawati menjadi presiden menggantikan Gus Dur.

Kondisi semacam ini, menunjukkan, media massa kita memang masih berada pada watak jurnalisme perang (war journalism). Sebuah watak yang ideologi pemberitaannya lebih menunjulkan pada sisi pertentangan antar tokoh elite yang dipandang memiliki pandangan berseberangan dalam perbedaan pendapat. Media massa akan sangat bergembira, ketika mendapatkan asupan beritanya dari suara-suara yang begitu tajam memberikan serangan-serangan di antara kelompok itu. Bila perlu, untuk memberikan efek situasi yang lebih dramatis, bisa secara bergantian disajikan pertentangan-pertentangan itu, dari satau tokoh ke tokoh yang lain, dari satu pengamat ke pengamat yang lain. Watak media samacam ini, tentu saja tidak akan tertarik untuk mencoba membuktikan gagasan-gagasan tentang konflik yang bersumber dari masyarakat yang dituduh akan terlibat konflik.

Berkaitan dengan fatwa ini, kita belum bisa membaca dari media massa yang mencoba melakukan wawancara serius terhadap kaum nahdliyin kebanyakan tentang pengaruh fatwa tersebut terhadap pilihan mereka. Atau bertanya tentang kemungkinan konflik yang akan terjadi akibat dari fatwa tersebut. Tidak dilakukanya investigasi serius terhadap rakyat kebanyakan ini, karena media massa kita memang masih menganut salah satu prinsip jurnalistik kuno, tentang who, yang salah satu kriterianya adalah tokoh atau figur dalam masyarakat. Rakyat kebanyakan hanya akana dilirik oleh media massa, manakala mereka menghadapi bencana alam, gunung meletus, kebanjiran atau kecelakaan kereta api. Sama sekali bukan pandangan-pandangan politik mereka, hak-hak mereka yang terabaikan, atau kejenuhan mereka dengan beragam iklan capres dan cawapres, yang tak ubahnya dengan iklan sabun atau obat kurap di televisi.

Pada akhirnya, geger di tubuh NU akibat fatwa kiai Jawa Timur, sebenarnya bukanlah fakta empiris, melainkan fakta psikis dan menjadi fakta media yang dikembangkan sedemikian rupa, karena ideologi media yang lebih cinta pada sensasional, bukan pada substansi informasi yang disampaikanya. Lain tidak.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: