Benturan Ideologi, Berdamai dalam Strategi

Kondom perempuan (female condom—fedom) pada hampir dua bulan terakhir muncul kembali menjadi bahan perdebatan, meski sebenarnya sejak awal tahun 2000-an World Health organization (WHO)sudah mempromosikan penggunaannya. Pasalnya, secara nasional penggunaan kondom perempuan resmi diadopsi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional sebagai salah satu strategi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Momentumnya, dikaitkan dengan Pertemuan Nasional HIV dan AIDS ke 3 di Surabaya, awal Pebruari tahun ini. Dampak dari adopsi strategi ini, kini, manakala mengikuti milis aids-ina, dalam sebulan terakhir ini—setelah momentum peluncurannya, cukup gegap gempita persetujuan terhadap penggunaan fedom untuk pencegahan HIV dan AIDS serta MS. Argumentasinya cukup jelas, dengan fedom perempuan pekerja seks—terutama, sedang diberi kuasa untuk mengontrol dirinya sendiri agar tetap sehat. Dengan kondom perempuan, mereka memegang kendali penuh atas dirinya sendiri, akan tertular ataukah tidak tertular sama sekali. Dengan argumentasi ini, penggunaan kondom perempuan, sesungguhnya dinilai sebagai proses pemberdayaan terhadap perempuan itu sendiri, bukan sebagai pengorbanan perempuan. Apalagi menurut Nafsiah Mboi, Sekjen KPA Nasional, sejak tahun 1996-2004, memang tidak ada kemajuan dalam penggunaan kondom sebagai alat pencegahan HIV dan AIDS. Karenanya, menurut Nafsiah perempuan harus mengambil keputusan untuk melindungi diri dari tertular HIV dan AIDS, apalagi jika menyadari pasangannya sering berganti pasangan (Kompas, 10/2006)Pengakuan fedom sebagai strategi nasional seperti ini, seluruh instrumen gerakan penanggulangan HIV
dan AIDS secara nasional juga akan diarahkan untuk mempromosikan penggunaannya.

Berbagai pelatihan sudah dan akan segera dilakukan untuk menyiapkan tenaga-tenaga yang akan mampu memberikan pemanduan dalam penggunaan fedom. Bagi para aktivis HIV dan AIDS penggunaan fedom tampaknya sangat menjanjikan. Apalagi hasil studi yang dilaksanakan di 40 negara, dengan dukungan WHO, menunjukkan angka penerimaan yang cukup signifikan terhadap penggunaan fedom ini. Tentu saja, karena yang menjadi pertimbangan adalah semata-mata bagaimana prevalensi itu segera menurun atau setidak-tidaknya tidak bertambah. Sebab, siapa yang tidak akan segera merasa khawatir, saat ini di Indonesia angkanya terus merambat sampai 15.000-an. Data terakhir untuk Januari-Maret 2007 saja, angka peningkatannya mencapai 1234 kasus HIV dan AIDS serta 123 orang meninggal.

Banyak argumentasi lain yang bisa dikembangkan, untuk mempromosikan multi-gunanya fedom bagi perempuan. Aman atas terjadinya kehamilan tidak dikehendaki (unwanted pregnancy) dalam posisinya sebagai alat kontrasepsi, dan ada juga argumentasi yang sangat ideologis, memberikan kekuasaan bagi perempuan dalam mengontrol kesehatan mereka sendiri (female control methode). Untuk memperkuat argumentasi ini, menurut Caroline Maposhere, yang dikenal aktif mempromosikan fedom dari Zimbabwe, fedom tidak saja akan menjadikan perempuan terlindungi dari penularan HIV dan AIDS, tetapi juga menjadikan perempuan mengenali diri mereka sendiri. “Saya belum tahu. Tetapi kalau disosialisasikan mungkin pekerja seks bisa menerima atau bisa juga menolak. Ini khan pilihan,” jelas salah satu anggota komunitas PKBI DIY saat ditanya soal kondom perempuan.

Tetapi, manakala mengikuti milis perempuan—sebuah milis yang memiliki anggota ribuan orang ini—cukup diramaikan oleh berbagai penolakan gagasan fedom sebagai salah satu strategi penguatan posisi perempuan dalam pencegahan HIV dan AIDS. Pasalnya, menurut para aktivis perempuan, penggunaan fedom ini, lagi-lagi sedang membuktikan kekuasaan patriarkhi. Perempuan kembali ditempatkan dalam posisi subordinasi dan harus melakukan pengorbanan diri, karena laki-laki enggan menggunakan kondom dalam melakukan hubungan seks. Sebagaimana luas diketahui, dalam proses-proses pendampingan kelompok perempuan pekerja seks—saya mencoba menghindari penggunaan istilah pekerja seks komersial (PSK) untuk mengurangi bentrokan ideologis pula—mereka sangat menyadari penggunaan kondom merupakan cara efektif untuk mencegah penularan HIV dan sebagian untuk pencegahan penularan Infeksi Menular Seksual (IMS). Tetapi, bisa dipastikan, laki-laki sebagai pelanggan yang kemudian menolak penggunaan kondom tersebut. Penggunaan kondom perempuan adalah simbol kuasa laki-laki, dan perempuan kembali diletakkan pada posisi yang dikalahkan.

Bagi aktivis gerakan perempuan, strategi ini berarti akan menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat sulit. Tanggung jawab pencegahan HIV dan AIDS akan diletakkan di atas pundak perempuan. Setelah secara faktual menunjukkan, laki-laki dengan seluruh mitos seksualnnya, enggan menggunakan kondom walaupun dirinya jelas-jelas selalu berganti-ganti pasangan. Secara manipulatif, bagaimana agar kenikmatan seks laki-laki tetap terpelihara, dengan tanpa harus menggunakan kondom, dan secara bersamaan mengatakan manakala perempuan menggunakan kondom dirinya sedang akan menyelematkan bangsa ini dari hempasan HIV dan AIDS. Apalagi kalau dilihat jumlah akumulasi perempuan yang hanya mencapai 1720, sedangkan laki-laki mencapai 7207 kasus.

Betapa indah dan luhur perempuan, dan dengan demikian, laki-laki tak akan lagi terkena beban tanggung jawab atas apapun yang dia lakukan. Dalam perspektif jender, penggunaan kondom perempuan memang sungguh-sungguh tidak akan memberikan jawaban bagi problem-problem perempuan, apalagi di kalangan perempuan pekerja seks—sebagian menyebutnya perempuan dalam pelacuran. ”Kalau dihadapkan pada persoalan gender perspective, memang akan banyak masalah,” kata salah seorang peserta sepulang dari pelatihan mengenai kondom perempuan yang dilaksanakan pada akhir Pebruari 2007 lalu.

Dalam konteks seperti inilah, saat ini, dua dunia yang selama ini hampir bisa dikatakan tidak pernah berurusan antara satu dengan yang lainnya, harus berhadap-hadapan. Diskusi yang menunjukkan adanya pertemuan dua ideologi ini, sangat kentara dalam sebuah forum workshop di Jakarta yang difasilitasi oleh STOP AIDS NOW, sebuah gerakan yang didukung oleh lima NGO besar dari Belanda—ICCO, AID FONDS, HIVOS, CORDAID, NOVIB. Pertemuannya, memang bukan dalam situasi nyaman bersandingan—seperti yang sedang menjadi arus gerakan baru di Yogyakarta, misalnya, melainkan dalam ruang yang saling bertolakan ideologinya. Fedom, benar-benar menjadi titik uji serius untuk melakukan dialog-dialog secara lebih intens bagi dua gerakan ini, gerakan HIV dan AIDS dan gerakan perempuan.

Bentrokan ideologi ini sungguh-sungguh sangat menarik untuk dikaji secara serius, sehingga kembali akan ditemukan titik temu, di mana masing-masing gerakan akan bisa melakukan kerjasama, bukan malah saling menjauh dan lebih buruk lagi saling melemahkan. Jujur harus diakui, dua cara pandang di atas, bisa tampak sangat diametral, karena bersumber dari pikiran lurus terhadap kehendak-kehendak tercapainya ideologi gerakan dari masing-masing kelompok, dengan tanpa bersedia melakukan negosiasi secara kritis antar gerakan. Mungkin tidak akan membawa pada suatu persoalan yang amat serius manakala bentrok cara pandang ini dibiarkan begitu saja. Toh, masing-masing kubu gerakan ini, selama ini juga tidak saling bertegur sapa dalam konteks programnya—kecuali bertegur sapa di antara para aktivisnya. Hanya saja, akan sangat menggelisahkan, di tengah-tengah kehendak untuk membangun kerjasama gerakan penguatan perempuan dan pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia. Karena sudah saatnya bagi kita untuk mengakhiri kerja-kerja secara sendiri-sendiri—saya sering pengistilahkan dengan menggunakan kaca mata kuda—sehingga secara keseluruhan, gerakan kita sungguh-sungguh akan menjadi gerakan sosial yang lebih besar, sehingga apa yang disebut dengan elemen masyarakat sipil bisa saling dukung mendukung dan bukan saling melemahkan.

Sebagai contoh, selama ini gerakan perempuan hampir bisa dikatakan absen untuk berpikir, kemungkinan perempuan korban kekerasan seksual (perkosaan di luar perkawinan maupun dalam perkawinan), memiliki potensi untuk terpapar HIV. Sehingga tak terpikirkan pula untuk melakukan kerjasama dengan lembaga lain yang bergerak dalam pencegahan HIV dan AIDS. Sebaliknya, bagi aktivis HIV dan AIDS tak juga pernah memikirkan, jika kliennya, yang saat ini terpapar HIV dan AIDS, sesungguhnya merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Artinya, dengan keterpaduan yang demikian ini, sesungguhnya akan membuka landskap yang lebih luas dalam membangun gerakan sosial yang lebih besar dan lebih berarti bagi masyarakat secara keseluruhan.

Strategi Ke Depan

Setelah menyadari, betapa kerasnya bentrokan ideologis di atas, saatnyalah setiap kita untuk berpikir membangun strategi baru yang lebih kreatif, tetapi tidak saling menghantam satu sama lainnya. Hal terpenting untuk menemukan strategi ini, adalah melakukan pembalikan paradigma mengenai siapa sesungguhnya yang harus memiliki peran sentral dalam keseluruhan proses perubahan sosial yang diangankan. Pertanyaan ini harus diajukan secara serius dan dijawab secara serius pula oleh para aktivis perempuan dan HIV dan AIDS. Manakala kita bersetuju aktor utama dalam perubahan sosial adalah rakyat, maka seluruh nilai dan kerangka kerja yang akan dilakukan harus berbasis pada cita-cita hidup masyarakat itu sendiri. Dalam konteks ini, terma ’partisipasi rakyat’ menjadi tidak harus muncul, karena merekalah agen utama perubahan. Para aktivis perempuan dan HIV dan AIDS itulah yang sesungguhnya memberikan partisipasinya untuk mendukung rakyat, sehingga mereka bisa mencapainya.

Kepastian paradigma seperti ini akan memberikan pijakan yang kokoh untuk bisa kembali menemukan titik temu yang kita cari. Nalar semacam ini pula yang akan menuntun para aktivis untuk dengan sungguh-sungguh melakukan koreksi terhadap apa saja yang sudah dilakukan selama ini, terutama berkaitan dengan cara pandang kita terhadap rakyat kebanyakan. Selanjutnya, akan melakukan reposisi peran, siapa aktor dan siapa pendukung dalam kerja-kerja perubahan sosial. Jika tahapan ini sudah dilampau, saatnyalah setiap kita untuk percaya kepada rakyat kebanyakan, mereka mampu merumuskan sendiri kepentingan-kepentingannya.

Manakala kita berbicara fedom berkaitan dengan pekerja seks—jangan sekali-kali kita selalu berpikir mereka inilah agen penular HIV dan AIDS—maka dengan paradigma baru ini, kita akan secara bersama-sama (aktivis gerakan perempuan dan HIV dan AIDS) untuk bertanya kepada perempuan pekerja seks, mengenai kondom perempuan ini. Hanya saja, sebelum mereka akan memilih apakah akan menggunakan kondom perempuan atau sebaliknya akan menolak menggunakannya, diskusi serius bersama mereka mengenai gender perspective harus dilakukan. Sehingga tidak saja pengetahuan, tetapi juga cara pandang perempuan pekerja seks menjadi clear. Setelah ini barulah kita bertanya, mengenai kondom perempuan, dan jawaban mereka harus dijadikan pijakan untuk melakukan advokasi lebih lanjut mengenai pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia.

Dalam kerangka kerja berpikir seperti inilah, saya mengandaikan, bagaimana kita semua—para aktivis itu—bisa legowo, mempercayai apa yang menjadi keputusan rakyat kebanyakan adalah benar-benar sebagai bahan pengambilan keputusan. Lalu, apakah konflik ideologis ini akan bisa mereda? Mestinya, ya, karena seluruh dasar untuk bergerak adalah sama yaitu ”kehendak dan cita-cita rakyat kebanyakan”, bukan ideologi dan cara pandang yang ada di otak para aktivis itu saja.

Model cara pandang seperti inilah, yang saya kembangkan dengan gagasan ’bentrok ideologi, kerjasama dalam strategi’. Sebuah pilihan melakukan agenda kerja masa depan yang bergerak dalam spektrum keberagaman tidak saja keberagaman strategi dan pendekatan, tetapi juga keberagaman ideologi yang harus diperjuangkan oleh masing-masing fasilitator gerakan dan perubahan sosial. Selain itu, dengan terjadinya kerjasama yang intens antar gerakan perempuan dan HIV dan AIDS, juga akan akan mengantarkan capaian yang signifikan bagi masing-masing gerakan. Sebut saja, misalnya, sebuah proyek pendampingan nelayan di Indonesia bagian Timur untuk penanggulangan HIV dan AIDS. Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan salah seorang pendamping, karena kerjakerja ini lepas dari gender perspective, terungkap perhatian mereka seluruhnya diarahkan pada upaya agar para nelayan bersedia menggunakan kondom manakala melakukan hubungan seks dengan para pekerja seks. Pada kenyataannya, memang tidak selalu berhasil, ada saja nelayan yang masih menolak menggunakan kondom. Celakanya, program ini tidak pernah memikirkan bagaimana para istri nelayan, yang dalam kasus ini sesungguhnya sedang dalam situasi yang rentan tertular IMS dan HIV dan AIDS dari suaminya.

Fakta ini menunjukkan, keluasan landskap gerakan memang akan terjadi manakala penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan dengan menggunakan cara pandang jender. Kelompok perempuan yang selama ini memilih tinggal di rumah, juga akan menjadi perhatian dalam proses penanggulangan HIV dan AIDS. Kebutuhan untuk melakukan kampanye PMTCT juga menjadi berkembang, karena program ini sangat efektif untuk menjangkau kelompok di komunitas—desa atau perkotaan. Pengalaman kampanye PMTCT yang dilakukan PKBI DIY, misalnya, selama kurun waktu 4 bulan, mampu memberikan informasi kepada lebih dari 3000 penduduk dan 600 di antaranya, melakukan VCT di PKBI DIY.

Dukungan Kebijakan

Manakala kerangka kerja bersama antara gerakan HIV dan AIDS dan gerakan perempuan sudah bisa dibangun, untuk mencapai keberhasilan yang signifikan dalam kampanye penggunaan fedom, haruslah didukung oleh kebijakan di seluruh level pemerintahan. Meski disadari, kebijakan tidak selalu efektif dalam mendukung sebuah program, tetapi dalam soal kampanye kondom sangat dibutuhkan kesepakatan dari seluruh komponen masyarakat. Karena sudah bukan hal baru, kampanye fedom juga akan berhadapan dengan pandangan-pandangan kultural masyarakat, yang memaknai sebagai keputusan yang akan berdampak pada terjadinya seks bebas. Apalagi, sejak awal sudah bisa terbaca, kampanye fedom lebih berkecenderungan diperuntukkan bagi perempuan pekerja seks, ketimbang bagi perempuan secara keseluruhan.

Cara pandang semacam ini haru diantisipasi dengan berbagai model kebijakan yang efektif bekerja di lapangan. KPA harus lebih progresif menempatkan diri, tidak saja semata-mata mengakui berperan sebagai koordinasi, melainkan harus memiliki sikap yang jelas, berkaitan dengan berbagai fenomena yang ada dan berkembangan di lapangan. Misalnya saja, apa sesungguhnya sikap KPA dan aktivis HIV dan AIDS berkaitan dengan Peraturan Daerah tentang Pelacuran yang sudah diberlakukan di beberapa daerah? Bagaimana mungkin aktivis HIV dan AIDS di lapangan, seperti para petugas outreach akan melakukan pendidikan berperilaku sehat, sementara secara psikis para perempuan pekerja seks terus menerus ketakutan karena akan terancam razia akibat penerapan Perda tersebut.

Di sisi lain, juga masih terdapat berbagai keluhan berkaitan dengan penggunaan fedom. Misalnya, secara teknis alat ini dianggap sulit dan tidak efektif dalam penggunaannya. Memang bisa digunakan beberapa waktu sebelum melakukan hubungan seks, tetapi pertanyaan sambil lalu yang disampaikan oleh komunitas PKBI DIY, cukup penting dan menggelitik, ”sudah terlanjur dipakai, kemudian tidak mendapatkan pelanggan,” katanya sambil terkekeh. Perasaan tidak nyaman masih dirasakan laki-laki, karena suara berisik yang ditimbulkan oleh penggunaan fedom ini. Artinya, masih mungkin laki-laki juga menolak pasangan seks untuk tidak menggunakan kondom, walaupun jelas-jelas yang akan repot adalah perempuan itu sendiri.

Kerangka nalar yang integralistik diperlukan dalam melihat fenomena sosial yang berkembang di atas, akan sangat menentukan tidak saja keberhasilan penanggulangan HIV dan AIDS tetapi juga penguatan kelompok-kelompok perempuan yang tidak diuntungkan oleh sistem ekonomi dan kebijakan pembangunan secara keseluruhan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: