Menandai Kematian Media Massa Cetak

Berbagai prediksi mengenai masa depan media massa cetak mulai dimunculkan banyak pihak. Setidaknya, sebagian besar dari mereka memberikan peringatan sejak dini, tentang kemungkinkan ajal yang siap menjemput. Pesaingnya, adalah media maya atau sering juga disebut jaringan internet yang mampu memberikan tawaran jauh lebih banyak ketimbang yang disediakan oleh media massa cetak. Baca saja, laporan Kompas (22/9/2006), sebuah artikel dengan judul “Menanti Meletusnya “Revolusi Sunyi”, kematian itu tampak benar-benar membayang di pelupuk mata. Seberapa jauh dan seberapa dekat ramalan mengenai ajal hendak tiba, tampaknya sudah mulai diperhitungkan oleh berbagai media massa besar di Indonesia. Artinya, kematian bagi sebuah produksi-kapitalis, sesungguhnya hanyalah soal metamorfosis belaka.

Kompas, misalnya, sudah sejak lama meluncurkan produk ‘kompas newsstand-nya. Tetapi, dengan model pembayaran menggunakan mata uang asing, menunjukkan dengan jelas, program ini masih ditujukan bagi kelas menengah-atas, yang diasumsikan memiliki mobilitas cukup tinggi, dan dengan akses kartu kredit atau fasilitas phone banking. Meskipun demikian, jika sungguh-sungguh pembaca akan beralih ke jalur internet, Kompas hanya tinggal mengubah system pembayarannya, selesai sudah persoalan yang rumit dan ditakuti itu. Meskipun, Kompas juga membuka ruang bebas untuk mengakses versi cetaknya melalui internet.

Prasyarat

Masa kematian media massa cetak dan digantikannya media informasi melalui internet, membutuhkan beberapa prasyarat untuk menjadi publik sifatnya. Pertama, akses internet yang murah. Untuk konteks Indonesia, harga akses internet melalui warnet masih berkisar antara Rp. 2500,- sampai Rp. 3.500,-. Akses melalui langganan Internet Service Provider (ISP), masih berkisar antara Rp. 8.000,- sampai Rp. 9.000,-. Meskipun beberapa ISP memberikan layanan akses dengan biaya lebih murah, tetap saja biaya itu tetap tinggi. Untuk melahap sebuah media melalui internet setebal Kompas atau Majalah Tempo, tentu akan membutuhkan waktu yang cukup mahal, jika harus mengakses melalui internet. Artinya, jika layanan akses tetap mahal tentu saja, menjadi salah satu hal yang bisa memperlambat datangnya ajal bagi media massa cetak. Tetapi, saat ini beberapa ISP juga sudah melakukan terobosan dengan meluncurkan produk pasca bayar dengan tarif flat per bulan untuk penggunaan jasa GPRS.

Kedua, kemudahan piranti teknologi. Dalam perkembangan terakhir ini, piranti teknologi informasi memang sudah menunjukkan tingkat akses yang terbuka, karena daya jangkau beli masyarakat meningkat. Sebuah laptop dengan harga Rp. 2 juta, misalnya, sudah memiliki perangkat teknologi yang memadai untuk mengakses internet dengan system wireless, baik model layanan pra-bayar maupun pasca bayar yang kini banyak disediakan oleh penyedia GSM/CDMA. Bagi mereka yang terbatas sumber dananya, modemnya, bisa menggunakan handset merek tertentu dengan harga yang juga terjangkau, dibanding dengan menggunakan PCMCIA Modem GPRS.

Ketiga, bersifat gratis. Media massa cetak tampaknya baru akan mungkin tergantikan manakala media di internet menyediakan layanannya secara gratis. Artinya, pembiayaan media itu harus bisa ditanggung oleh pendapatan dari iklan. Persaingan akan terjadi, manakala media massa cetak juga digratiskan untuk para pembaca dengan mengandalkan pembiayaan dari iklan. Beberapa media gratis saat ini bisa ditemukan di beberapa kota besar, di mana mereka menghidupi produksinya dengan mengandalkan biaya iklan. Nalar pemasang iklan, semakin banyak media pasangnya bisa tersebarkan ke publik, maka akan semakin banyak iklan yang hendak memasangnya, meski dengan biaya yang cukup mahal sekalipun.

Setidaknya, ketika tiga persyaratan itu bisa terpenuhi, memang ajal bagi media massa sudah semakin dekat. Tetapi, bukanlah kematian sungguh-sungguh yang akan dialami oleh perusahaan-perusahaan media massa cetak, karena berbagai persiapan online juga sudah banyak dilakukan oleh perusahaan tersebut. Mereka hanya tinggal menggeser fungsinya dan mengubah system aturan mainnya. Tidak ada masalah.

Tetapi, manakala ketiga prasyarat itu masih masih sulit terpenuhi, sesungguhnya, media massa cetak cukuplah bernafas lega. Terutama bagi mereka yang saat masih baru memulai merintis penerbitan media massa cetaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: