Mengenal Pejuang Pendidikan Perempuan Islam Indonesia

Pada kebanyakan perempuan Islam Indonesia, sesungguhnya belumlah lama memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Sebut saja, misalnya, dibukanya pesantren putri baru dilakukan pada tahun 1930, dengan berbagai hujatan dan ketidaksepakatan yang berkembang saat itu. Sebelumnya, perempuan hanya berhak belajar membaca Alquran, tetapi sama sekali tidak dianggap penting untuk belajar menulis huruf latin dan berhitung. Nalarnya, berakar pada paradigma posisi perempuan dalam sistem nilai dan sistem sosial yang berkembang, Mereka hanyalah makhluk kelas dua yang dipersiapkan untuk merawat rumah tangga beserta ubo rampenya, dan wabil khusus untuk melayani seluruh kebutuhan suaminya. Keterhalangan perempuan Islam untuk mendapatkan pendidikan merupakan akar dari sebuah matarantai yang menjadikan perempuan semakin terpuruk kondisi dan situasi dalam sistem kehidupannya. Paradigma mengenai posisi perempuan dalam konteks Islam ini, lalu kawin mawin dengan nilai-nilai kolonialisme, semakin memperburuk terhapuskannya hak-hak perempuan Islam.

Kenyataan seperti ini, tampaknya disadari benar oleh anak bungsu dari Rafiah dan Muhammad Yunus bin Imaduddin, Rahmah el Yunusiyyah. Pembacaan kritisnya terhadap situasi dan posisi perempuan pada masa kolonial dan perjuangan gerakan kemerdekaan, tidak berhenti pada tumpukan analisa tak berguna. Melainkan diturunkan pada tindakan nyata, menjadi pertemuan sempurna gagasan aksi-refleksi yang dikembangkan Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brazil. Kesadaran itu, begitu menguat dan pada usianya yang cukup muda, 23 tahun—ia dilahirkan pada 20 Desember 1900, di Bukit Surungan Padang Panjang, melakukan kerja-kerja pendidikan untuk perempuan Islam. Karya nyata inilah, yang kemudian, oleh banyak kalangan, Rahmah el Yunusiyyah, disejajarkan dengan tokoh nasional seperti RA Kartini dan Dewi Sartika.

Tetapi menurut Sinta Nuriyah Wahid, pemadanan ini sama sekali tidak sebanding. Pasalnya, dalam pandangan pendiri Puan Amal Hayati—gagasan organisasi untuk Women Crisis Center di pesantren-pesantren seluruh Indonesia, jauh lebih progresif ketimbang yang dilakukan RA Kartini. Bahkan ia menyebutnya, pendidikan yang dikembangkan Rahmah el Yunusiyyah merupakan kritik tajam terhadap gagasan pendidikan RA Kartini. Baginya, RA Kartini sesungguhnya hanyalah mengembangkan sistem pendidikan Barat, sementara gagasan pendidikan Rahmah el Yunusiyyah justru untuk mengoreksi sistem pendidikan yang dikembangkan Pemerintah Belanda, yang itu dianut oleh RA Kartini, dengan menjadikan Islam sebagai basis ajarannya, dan menolak segala bentuk campur tangan Pemerintah Belanda. Dampaknya, perguruan yang dikembangkan Rahmah el Yunusiyyah dicurigai sebagai media perlawanan politik terhadap kekuasaan Belanda, sesuatu yang tidak pernah dialami RA Kartini.

Kisah perlawanan ini sangat jelas, ketika pemerintah kolonial memberlakukan Ordonansi Sekolah Liar pada tahun 1932, menyusul diberlakukannya Ordonansi Guru pada tahun 1928 di Sumatra Barat. Rahmah el Yunusiyyah, tampil sebagai pimpinan Panitia Pernolak Ordonansi Sekolah Liar, karena tentu saja, gagasan pendidikannya yang menolak campur tangan kolonial akan menjadi sasaran utamanya. Meskipun tidak terlibat dalam politik, Rahmah el Yunusiyyah cukup aktif dalam gerakan perempuan kala itu. Dirinya hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia tahun 1935 di Batavia mewakili kaum Ibu Sumatra Barat. Dalam mengembangkan pendidikannya, Rahmah el Yunusiyah juga melakukan perjalanan ke semenanjung Melayu dan Singapura, untuk mengantar calon guru dari sekolahnya, sekaligus melakukan aktivitas penghimpunan dana untuk pembangunan dan memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikannya.

Pertanyaan kemudian, seperti apa sesungguhnya lembaga pendidikan yang dikembangkan Rahmah el Yunusiyah, sehingga diduplikat oleh Dr. Syaikh Abdurrahman Taj Rektor Universitas al-Azhar Kairo, menjadi Kulliyah lil Banat, yang mengunjungi perguruan Rahmah el Yunussiyah pada tahun 1955 dan mengundang Rahmah el Yunussiyah ke al-Azhar pada tahun 1957 dan menganugerahi dirinya sebagai Syaikhah? Pada langkah awalnya, Rahmah el Yunusiyyah mendirikan Madrasah Diniyyah lil Banat (Diniyyah School Purtri) pada tanggal 1 Nopember 1923, dengan peserta didik 71 orang ibu muda dan bertempat di mesjid Pasar Usang Padang Panjang, yang tidak saja mengajarkan ilmu agama, melainkan juga membaca dan menulis. Bagi ibu-ibu dewasa yang belum bisa membaca dan menulis, Rahmah el Yunussiyyah mengembangkan Menjesal School untuk mereka.

Dalam perkembangan selanjutnya, Rahmah el Yunusiyyah mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak (Freubel School), Junior School (setingkat HIS), dan mendirikan Diniyah School Putri 7 tahun, 4 tahun tingkat Ibditaiyah dan 3 tahun tingkat Tsanawiyah. Dalam kenyataannya, Rahmah el Yunusiyyah menghadapi problem tenaga pendidik untuk tingkat pendidikan yang dibukanya. Untuk memenuhinya, ia membuka Kulliyat al Mu’alimat al Islamiyah, proses pendidikannya ditempuh selama 3 tahun, untuk mempersiapkan calon-calon tenaga guru pada tahun 1937. Sebelumnya, Rahmah el Yunussiyah juga telah mendirikan sekolah tenun pada tahun 1936.Tigapuluh tahun kemudian, tahun 1967, Rahmah el Yunusiyyah mendirikan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah.

Keyakinan terhadap pentingnya independensi gerakan pendidikannya, penolakan campur tangan Rahmah el Yunusiyyah tidak saja ditujukan ke pemerintah kolonial, melainkan juga ajakan bergabung ke berbagai sekolah Islam ketika itu. Termasuk juga penolakan terhadap tawaran Mahmud Yunus untuk bergabung dalam gerakan pembaharuan sekolah-sekolah Islam di Minangkabau pada tahun 1930-an, yang ketika sangat pesat berkembang di Sumatra Barat.

Independensi yang ditunjukkan Rahmah el Yunusiyyah, juga tidak sebatas pada persoalan model dan conetnt pendidikannya, tetapi sampai dalam bidang penggalangan dana untuk pembangunan sarana pendidikan. Sebut misalnya, ketika bangunan dan asrama sekolahnya hancur karena gempa pada tahun 1926, ia menolak tawaran beberapa pihak, yang menyatakan keinginannya untuk membantu proses pembangunan kembali gedung pendidikannya. Termasuk tawaran subsidi dari pemerintah kolonial yang juga ditolaknya, karena dinilai akan mengurangi independensinya. Pilihan Rahmah el Yunussiyah, justru melakukan perjalanan penggalangan dana pada tahun 1927, ke Sumtara Utara dan Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam perjalanan yang digunakan untuk menyampaikan cita-cita pendidikan dan program-programnya, Rahmah el Yunusiyyah, menyempatkan diri memberikan pelajaran agama di beberapa istana untuk putri-putri sultan. Perjalanan selama tiga bulan ini, telah berhasil menggalang dana yang cukup besar untuk melanjutkan pembangunan sarana pendidikannya.

Sebagaimana diketahui secara luas, gagasan pendidikan inilah yang kemudian hari, sampai saat ini, tetap berkembang baik, yaitu Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang sangat berpengaruh tidak saja pada level nasional, melainkan sampai tingkat internasional. Sebuah karya besar dan monumental dari perempuan Islam, yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan perempuan Islam dengan guru-guru perempuan di dalamnya. Sebuah arsitek pendidikan progresif, yang hanya menyelesaikan pendidikan formalnya, selama tiga tahun di tanah kelahirannya, selebihnya mengikuti pengajian di surau-surau. Rahmah el Yunisiyyah benar-benar membuktikan, Islam mampu dijadikan basis gerakan untuk perbaikan situasi dan kondisi perempuan, sebagaimana yang ia cita-citakan. Pada tanggal 26 Pebruari 1969, Rahmah el Yunusiyyah, dengan tanpa diduga, karena sesaat sebelum wafatnya, ia masih bercengkerama dengan para tamunya.

4 thoughts on “Mengenal Pejuang Pendidikan Perempuan Islam Indonesia

  1. devi mengatakan:

    menjadi seorang tokoh dalam sejrah tentu bukanlah hal yang mudah, berkorban dari segala hal yang kita punya, perasaan, harta, benda atau kehilangan dan berkorban untuk sesuatu yang sangat kita sayangi….
    apakah hari ini ada orang sperti ini???
    apakah kita bisa menjadi seperti ini???

  2. devi mengatakan:

    ingin ku menjadi seorang tokoh, aktor dalam melakoni kehidupan, katanya dunia ini panggung sandiwara, tapi aku tidak mau menjadi nirwana, aku ingin menjadi shinta…atau aku ingin menjadi seorang sutradara jadi bisa mengatur arah skenario kehidupan..
    tokoh…buatku hanya orang yang punya rasa nasionalisme tinggi, bisa mewujudkannya

  3. GUSLAY mengatakan:

    THanks braddda, lg buat makalah nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: