Media Kampanye Hak Reproduksi [HIV dan AIDS], Gender dan HAM

Arsip untuk ‘Perjalan Seorang Saya’ Kategori

Yang Disayang, Yang Meninggalkan

In Perjalan Seorang Saya on 31 Agustus 2009 at 12:42 pm

Terguncang. Sebulan lalu, baru saja, saya dan Kang Dul–begitu saya biasa akrab memanggil Drs. H. Abdul Chori Arief–bercengkrama di tengah-tengah sebuah seminar soal hak anak dan pendidikan anak. Masih sama, yang dikeluhkannya, asam urat yang terus menggayutinya dan keinginan untuk tetap mengikuti kesukaannya, menikmati daging kambing. Kubaca berulang-ulang, pesan pendek yang masuk ke memory selulerku. “Kang Dul, meninggal dunia, pagi ini, pkl 7.”

Read the rest of this entry »

Menemukan Pijakan Gerakan

In Perjalan Seorang Saya on 26 Agustus 2008 at 3:09 pm

Malam ini Kliwon agak serius berpikir, memutar otak, mengais-kais memory yang sudah hampir rapuh. Pertanyaan-pertanyaan berat diajukan tiga aktivis gerakan sosial di hadapannya. Seperti juga watak para pejabat, Kliwon berusaha keras menjawab setiap pertanyaan, walaupun kadang-kadang tidak menguasai benar apa yang didiskusikan. Bayangkan saja, sebagai veteran aktivis yang tidak pernah bergerak secara langsung dalam peruangan hak-hak seksualitas bagi teman-teman homoseksual, ditanya soal pijakan membangun gerakannya. Dedikit kelabakan, memang.

Read the rest of this entry »

Nida

In Perjalan Seorang Saya on 22 Agustus 2008 at 11:07 am

Sebuah permintaan alamat e-mail, siang itu masuk begitu saja melalui pesan pendek. Uniknya, pengirim juga meminta saya untuk tidak bertanya terlebih dahulu siapa sang pengirim. Hanya karena panggilan yang terasa sangat akrab, “kang”, saya tanpa bertanya siapa sang pengirim, saya langsung membalas dengan mengirimkan alamat e-mail saya. Hanya dalam hitungan menit, sang pengirim pesan pendek membalas kembali, “saya sudah kirimkan e-mail.”

Read the rest of this entry »

Roem Topatimasang

In Perjalan Seorang Saya on 15 Juli 2008 at 8:29 am

Bulan lalu, ada rasa bangga yang membuncak. Setelah entah berapa tahun, saya tak pernah bertemu dengan Bang Roem–demikian saya selalu memanggil Roem Topatimasang, di sebuah acara Workshop Training Center PKBI DIY, saya bertemu kembali. Sebenarnya, saya tidak berani mengatakan ia masih mengingat saya dengan baik, karena rentang waktu yang begitu panjang dan intensitas pertemuan yang tidak mesti setahun sekali bisa bertatap muka. Tapi, saya selalu mengingatnya. Cara pandang kritis terhadap realitas yang pernah ia berikan puluhan tahun lalu, sampai saat ini tetap mendapatkan relevansinya. Bahkan menjadi pijakan paling dasar dalam batin saya.

Read the rest of this entry »

Kang Mufid Aziz

In Perjalan Seorang Saya on 9 April 2008 at 12:37 pm

Setelah melalui perjalanan panjang dalam proses fasilitasi pendidikan kritis rakyat, satu hal yang selalu saya kagumi, ketrampilan menggambar. Karena tidak saja menjadi penyegar suasana–khan menjadi tidak sekedar kotak-kotak dan lingkaran serta corat-coret yang lain–juga bisa memvisualisasikan gagasan yang sedang dikembangkan. Nah, kalau sudah begini, saya selalu teringat dengan salah seorang kolega–ach…, mungkin tidak tepat benarnya menyebut kolega, mungkin seorang fasilitator yang saya pernah menjadi pesertanya–Kang Mufid Aziz. Coretan-coretannya begitu dahsyat, dan tentu saja menggelitik.

Read the rest of this entry »

Bank Plencit

In Perjalan Seorang Saya on 18 Maret 2008 at 5:54 pm

Perempuan miskin yang mengelola usaha dagang, baik membuka kedai maupun dengan cara keliling kampung tidak saja harus berhadapan dengan masalah kebangkrutan modal karena tidak terbelinya barang dagangannya karena membusuk—tidak bisa bertahan untuk beberapa hari, tetapi juga menghadapi problem keterbatasan sumber modal itu sendiri. Untuk mendapatkan suntikan modal segar mereka harus mengakses lembaga keuangan yang tersedia. Hanya saja, lembaga keungan semacam bank, tentu saja menjadi tidak efektif, bukan hanya karena jumlah pinjaman yang tidak terlalu besar, tetapi juga sulitnya persyaratan peminjaman—seperti harus ada agunan. Satu-satunya yang bisa diakses dengan cepat dan mudah persyaratannya mereka mengakses pinjaman modal melalui koperasi simpan pinjam [kosipa]—di masyarakat ketika itu lebih dikenal dengan Bank Plencit atau sebagiannya menyebut Bank Thithil.

Read the rest of this entry »

Gambar Alat Vital

In Perjalan Seorang Saya on 16 Maret 2008 at 3:45 pm

Gambar. Apalah artinya gambar? Ternyata tidak sederhana jawabannya. Dalam konteks kehidupan, gambar juga merupakan sebuah kontruksi yang sedemikian kuat dan melekat berkelindan dengan bahasa. Lihat misalnya, dalam sebuah workshop teater dengan Ende Reza–yang ini seorang pantomimer kondang dari kota gudeg Ngayogyokarto–ketika Reza meminta peserta untuk menggambar alat vital manusia, salah seorang dari mereka maju ke depan dengan penuh keyakinan. Spidol di tangannya mulai bergerak, membentuk garis, mencoret sana-sini, lalu…, jadilah gambar vagina.

Read the rest of this entry »

Awalnya Awal-1

In Perjalan Seorang Saya on 12 Maret 2008 at 9:03 pm

copy-of-present1.jpgSaya tidak tahu menahu, kenapa Aris Munandar (Alm), memilih saya menjadi salah satu dari lima belasan santri yang lain untuk menjadi peserta pelatihan penelitian bagi santri pada tahun 1985. Asal tahu saja, Aris Munandar adalah guru Bahasa Indonesia, sejak saya kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah [setingkat SD] sampai kelas 3 Madrasah Aliyah [setingkat SMU]. Menurutnya, kegiatan pelatihan ini dilakukan atas kerjasama LPSM di Jakarta, LP3ES. Nama LP3ES bagi saya memang sama sekali tidak asing, karena saya sudah terbiasa membaca PRISMA dan beberapa buku terjemahannya, antara lain Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire, seorang pendidik rakyat yang cemerlang dari Brazil. Sampai saat ini saya selalu kagum dan menggunakan cara berpikirnya dalam praktek-praktek pendidikan rakyat.

Read the rest of this entry »