Bulan lalu, ada rasa bangga yang membuncak. Setelah entah berapa tahun, saya tak pernah bertemu dengan Bang Roem–demikian saya selalu memanggil Roem Topatimasang, di sebuah acara Workshop Training Center PKBI DIY, saya bertemu kembali. Sebenarnya, saya tidak berani mengatakan ia masih mengingat saya dengan baik, karena rentang waktu yang begitu panjang dan intensitas pertemuan yang tidak mesti setahun sekali bisa bertatap muka. Tapi, saya selalu mengingatnya. Cara pandang kritis terhadap realitas yang pernah ia berikan puluhan tahun lalu, sampai saat ini tetap mendapatkan relevansinya. Bahkan menjadi pijakan paling dasar dalam batin saya.

Ketika Mansour Faqih masih sugeng, saya sempat berdiskusi panjang lebar mengenai gerakan petani. Berada di sebuah ruang pertemuan kecil milik INSIST, saya mendiskusikan mengenai gerakan pertanian organik di sela-sela cerita mereka berdua–Mansour dan Roem–bergelak tawa mengenai pengalaman mereka memancing dengan pantai Indonesia timur.  Mengenai ikan yang mereka pancing, atau mengenai makanan-makanan kecil yang memberikan bekas kenangan begitu mengasyikkan. Saya kira ini, sekitar pertengahan akhir tahun 90-an.

Pertemuan selanjutnya, ketika pertemuan mitra The Asia Foundation di Medan, yang mengembangkan program untuk response terhadap bencana gempa bumi dan  tsunami di Aceh.  Saya sempat berdiskusi mengenai stratgi membangun gerakan untuk teman-teman yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Seperti biasa, tetap renyah dan enteng, tetapi terus mengalir berbagai strategi gerakan. Contoh-contoh yang digulirkan begitu sehari-hari, tetapi memiliki kaitan tidak saja dalam nalar gerakan nasional, tetapi juga gerakan internasional. Tahun 2005 kira-kira, dan saya tetap terseok-seok mengikuti ritme pengalaman yang begitu luas dan mendalam.

Ketika saya di Jakarta dan mampir ke sebuah toko buku, saya menemukan sebuah buku yang ditulis Bang Roem, Sekolah itu Candu, saya sudah memilikinya. Tetapi, ternyata itu edisi revisi, dengan ditambah beberapa tulisan terbaru, termasuk essay-essay visualnya, yang sungguh sangat aduhai. Saya membelinya dengan senang hati. Meski di dalamnya, mengkritik gerakan kapitalisme-industrial, saya tetap membelinya dengan uang, sebagai salah satu alat tukar bagi proses industrialisasi-kapitalistik. Barter tentu saja tidak memungkinkan untuk saat ini, meski saya ada juga buku kecil yang saya tulis maupun saya edit untuk beberapa tahun terakhir ini.

Saya coba baca ulang, refleksi tahun 70-an itu begitu tetap relevan pada situasi sekarang ini. Akh, sangat mengesankan. Dan gairah itu tetap hidup, begitu nyata dan begitu dekat di mata keseharian. Kritik-kritik tajam begitu ringan terlontar, saat hadir dalam Workshop Ahli Pengembangan Training Center PKBI DIY. Gugatannya sangat terterimakan, mengenai siapa sesungguhnya pemilik pengetahuan, jika memang Training Center yang hendak dikembangkan, siapa pusat-siapa pinggiran. Akh, yang muda yang muridnya, memang masih hanya sempat menganggukkan kepala, bukan ketundukkan, tetapi kekaguman, betapa sebuah ideologi itu begitu mancancap jauh, mendarah daging. Tetapi tidak pernah lahir untuk memaksa-maksa. Menyalah-salahkan. Saya tetap berdecak, karena yang ada hanya tawaran-tawaran kritis. Padahal, jika Bang Roem hendak memaksa, mungkin saya juga setuju dan mengangguk-angguk takluk. Tetapi tidak bagi dia.[]