Ada satu pertanyaan serius yang tidak mudah untuk menjawabnya, “kenapa ada sekelompok orang tertentu yang harus mengalami peminggiran dalam sistem sosial kita?” Jawaban atas persoalan peminggiran ini, seringkali menggunakan pendekatan ekonomi. Sebuah pendekatan yang secara serius pula melakukan serangkaian pembatasan wacana sehingga menjadi sempit dan tidak memiliki kegunaan yang cukup signifikan. Pasalnya, pendekatan ekonomik tidak secara keseluruhan bisa menjawab soal peminggiran dan seringkali selalu berujung dengan stigma dan diskrminasi. Terutama jika pendekatan ini dimaksudkan untuk membaca realitas kehidupan bagi teman-teman yang memiliki orientasi seksual bukan hetero ataupun teman-teman yang memilih menjalani kehidupannya sebagai janda. Peminggiran yang mereka alami bukanlah berakar pada situiasi ekonomi, melainkan dari sebuah nalar yang meyakini, satu-satunya yang diakui dalam kehidupan manusia adalah relasi seks laki-laki dan perempuan (heteroseksual).
Selain dari tata relasi seks ini akan disebutdengan penyimpangan sosial. Inilah yang dalam wacana seksualitas disebut dengan hetero-normativitas, sebuah cara berpikir yang saat ini dominan dalam tata kehidupan sehari-hari. Hetero-normatrivitas, terus menerus direproduksi melalui berbagai medium kebudayaan sehingga menjadi langgeng, dan menjadi hegemonik. Salah satu medium terkuat dalam melakukan reproduksi ini adalah agama dan setelah itu disusul oleh media massa. Melalui institusi agama dan media massa nalar hetero-normativitas terus menerus diajarkan dan disosialisasikan secara intensif.
Dalam nalar agama, misalnya, homoseksual merupakan penyimpangan serius, bahkan dibawa sampai pada level keimanan. Kaum homoseksual terus menerus terpinggirkan dan mendapatkan pengucilan secara serius dalam kehidupannya. Saking kuatnya pola tekanan agama ini, kemudian melahirkan berbagai kenyataan sosial yang harus dikreasi oleh teman-teman homoseksual ini. Lalu, dalam level tertentu mereka terjebak dalam sikap yang berlawanan di antara mereka sendiri, untuk melakukan perlawanan sosial.
Dalam level ideologi, mereka mulai merambah pada diskusi mengenai homoseksual tidak semata-mata konstruksi sosial, melainkan memang terberikan. Di satu sisi masih tetap meyakini homoseksual merupakan hasil dari konstruksi sosial, seperti juga karakter yang melekat pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Secara keseharian, mereka juga dihadapkan pada pilihan sikap, harus ‘open’ atau ‘close’ berkaitan dengan oreintasi seksual mereka.
Dalam spektrum media massa, penegasian terhadap pilihan dan apresiasi terhadap oreintasi seksual juga sangat dipengaruhi oleh nalar hetero-normativitas ini. Misalnya, sebuah acara bertajuk “Be a Man”, yang ditayangkan Global TV setiap Minggu itu. Acara ini sedang menolak entitas waria dengan seperangkat nilai, norma, dan cara pandang mereka terhadap kehidupan. Waria dianggap dalam posisi yang salah, karena tidak menjadi laki-laki. “Be a Man” dimaksudkan untuk melakukan pelurusan terhadap nilai, norma, dan cara pandang yang hidup dalam diri waria, agar mereka kembali benar sesuai dengan hetero-normativitas, menjadi laki-laki sejati.
Agenda ke Depan
Hetero-normativitas memiliki posisi yang sejajar dengan ideologi-ideologi lain di dunia. Karenanya, bertahan dan tidaknya nalar ini, sesungguhnya mengikuti tradisi ideologi yang lain, mampu mempertahankan wacana hegemonik dalam kehidupan sosial. Wacana ini terus menerus diperkuat, sehingga masyarakat yang hidup dalam lingkar pengaruhnya, sungguh-sungguh merasa ‘hetero-normativitas’ merupakan satu-satunya yang ‘benar’. Perangkat reproduksinmya menggunakan berbagai instrumentasi sosial yang ada. Memahami hetero-normativitas seperti ini, maka agenda ke depan untuk merontokkan hegemoni hetero-normativitas adalah dengan melakukan counter ideologi.
Operasionalnya, melakukan perang wacana, menggunakan berbagai instrumentasi sosial yang ada dan dilakukan secara terus menerus dengan intensitas yang tinggi. Upaya ini dilakukan agar wacana mengenai keragaman orientasi seksual sesungguhnya merupakan hal yang biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Manakala wacana yang dikembangkan mulai pula diakui kebenarannya, tahap awal kemenangan dalam pertempuran sudah bisa didapatkan.
Ingat, kemenangan dalam sebuah pertempuran, bukan peperangan itu sendiri. Kemenangan dalam peperangan masih akan jauh untuk ditempuh, karena hetero-normativitas telah begitu berakar dalam kehidupan sosial. Mungkin juga dalam diri kita sendiri, yang kebetulan memilih atau malah terkonstruksi untuk adalah dalam barisan heteroseksual.[]