Kliwon masih asyik menonton televisi. Sesekali matanya mengerjap, seakan menagan kantuk yang terus menerus menghinggapi kelopak matanya. Memberat. Tetapi ia tetap bertahan. Tayangan tanpa editing dari adegan penyerangan FPI terhadap para aktivis AK-KBB yang sedang melakukan aksi mengenai kebebasan beragama di negeri ini.

“Bapak setuju yang mana,” tanya Maksum, anak lanangnya.

“Saya  bukan sedang hendak membela siapa yang benar dan siapa yang salah,” sahutnya.

“Lalu.”

“Cobalah kau lihat, bagaimana mungkin aksi kekerasan saling pukul dan saling hantam, tertayangkan begitu saja tanpa proses editing sama sekali.

Apakah para wartawan dan desk pemberitaan tidak menyadari apa sesungguhnya yang sedang mereka lakukan?

Ribuan mata, tidak saja orang dewasa, tetapi juga anak-anak melihat dengan telanjang mata. Investisasi macam apa yang sedang dlakukan oleh televisi kita kepada anak-anak calon pemimpin masa depan negeri ini,” kata Kliwon panjang lebar.

“Ah, itu khan urusan KPI,” kata Maksum seenaknya.

“Tidak bisa begitu jawabanmu. Ini soal bagaimana kita mesti bertanggung jawab terhadap kemungkinan reproduksi kekereasan di masa mendatang. Kalau para insan media mempercayai produknya memiliki pengaruh dalam kontruksi kebudayaan, maka mereka juga harus mempercayai, penayangan tindak kekerasan merupakan bagian yang akan terkonstruksi juga,” lanjut Kliwon.

Maksum maklum, kalau sudah begini, Bapaknya yang katanya kantan jurnalis di masa orde lama itu tak akan bisa dihentikan kritik-kritiknya. Mengalir begitu saja tanpa kontrol. Satu-satunya jalan untuk membebaskan diri adalah permisi untuk buang hajat. Ke toilet. Pilihan itulah yang diambil Maksum, “saya ke belakang dulu, Pak. Kebelet,” katanya.[]