Gambar Alat Vital

Gambar. Apalah artinya gambar? Ternyata tidak sederhana jawabannya. Dalam konteks kehidupan, gambar juga merupakan sebuah kontruksi yang sedemikian kuat dan melekat berkelindan dengan bahasa. Lihat misalnya, dalam sebuah workshop teater dengan Ende Reza–yang ini seorang pantomimer kondang dari kota gudeg Ngayogyokarto–ketika Reza meminta peserta untuk menggambar alat vital manusia, salah seorang dari mereka maju ke depan dengan penuh keyakinan. Spidol di tangannya mulai bergerak, membentuk garis, mencoret sana-sini, lalu…, jadilah gambar vagina.

Ketika Reza meminta peserta untuk menggambar pemandangan, peserta yang lain maju ke depan dengan entengnya. Lalu…, ia mengambil beberapa spidol berbeda warna sekaligus. Peserta ini mulai beraksi…! Apa hasilnya, sebuah gambar pemandangan, sebuah landskap…, dua buah gunung dengan garis yang bersinggungan, di titik singgung itu, bundaran bulat gambar matahari, ada jalan yang membelok, dipisahkan dengan jembatan kecil, mengalir air, ada jaringan kabel listrik mengikutinya. Di tepian jalan, selain pohon kelapa, tumbuh subur pula pohon pisang, salah satunya sudah menjulur buahnya, dengan jantung yang masih menggantung.

Ah…, tampak serius Reza mananggapi gambar-gambar karya peserta workshop ini. Sebuah pertanyaan enteng meluncur dari bibirnya yang selalu jarang terbuka manakala dia sedang memainkan gerak-gerak pantomim, apa saja bagian dari tubuh kita yang memiliki fungsi sangat penting atau bahasa lainnya ‘vital’? Tidak ada joke yang dilontarkan, tidak ada gerak sang pantomimer yang menggelikan, tetapi suara tawa itu meledak memenuhi ruang yang sudah pengap dengan asap rokok, dan terasa pedas di mata.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Setiap peserta sedang tertohok oleh sebuah konstruksi bahasa, yang menjadi sangat menggelikan manakala dikomparasikan dengan hasil gambar tunggal yang selalu muncul manakala teks itu disebutkan, ‘alat vital’. Kegelian itu sudah teramat puncak, meski tidak harus terkatakan. Tetapi lebih memuncak lagi, manakala Reza mencoba menunjukkan hasil gambar pemandangan. Suara tawa itupun meledak kembali. Setiap orang berefleksi, betapa konstruksi itu memang sulit sekali disingkirkan, bahkan pada sisi tertuntut menjadi seperti penaklukkan.

Saya menyetujui semuanya. Gambar pemandangan, selalu saja, sejak kecil sampai dewasa di saat ini, yang selalu muncul adalah gunung, matahari, jalan, kabel, sungai, pohon kelapa dan pohon pisang. Kalau toh terjadi perluasan, ditambah petak-petak sawah, dan ada seekor kerbau dengan anak-anak laki-laki bercaping duduk di punggungnya sambil meniup seruling. Celakanya, konstruksi ini pula yang saya ajarkan kepada Farrel, anak lanang pertamaku, ketika ia meminta diajari menggambar sepulang dari bermain-main di sebuah play group di Magelang.

Dua gambar di atas, sesungguhnya relatif netral ideologi, mungkin hanya terjadi begitu saja. Bagaimana sebuah perjuangan melakukan dekonstruksi atas konstruksi mengenai perempuan dan laki-laki? Betapa susahnya, dan terkadang juga sulit merumuskan jalan untuk memulai dari mana.Tampaknya, dalam konfigurasi seperti inilah, bagaimana gerakan-gerakan yang mencoba mendedah kerangka nalar patriarkhi yang mengakibatkan dehumanisasi bagi perempuan dan laki-laki itu sangat sulit dilakukan. Tidak saja pembisuan, tetapi juga perlawanan dan resistensi yang terus menerus. Maka wajar, dalam sebuah worksho jender yang diikuti oleh kiai-kiai [dipastikan kiai muda, ya], mereka meminta workshop yang baru dimulai dengan kata sambutan oleh panitia, harus segera diakhiri, karena akan mengajari perempuan membangkang.

Sebagai fasilitator, sesungguhnya negeri juga menghadapi tuntutan para peserta yang kiai ini. Untuk menenangkan hati, saya katakan, workshop boleh dibubarkan, tetapi kita harus mencoba menjawab dua pertanyaan penting. Sebelum pertanyaan saya ajukan, saya tawarkan untuk istirahat terlebih dahulu. Pasalnya, dua pertanyaan itu sendiri, memang belum saya temukan. Sambil nyruput kopi dan menghisap beberapa kali asap rokok, gagasan itu mengalir, mendesak begitu keras. Kutangkap inti nalar patriarkhi, relasi kuasa, ya…, relasi kuasa yang tidak adil.

Sesi masuk…, para kiai mungkin berdebar-debar tentang pertanyaan itu, karena ketika minum kopi salah seorang sempat tidak sabar menunggu, dan mengatakan, “Apa sih pertanyaannya?” Perlahan saya memulai sesi dengan sedikit basa-basi. Lalu saya ajukan pertanyaan pertama, “Kalau saja putra kiai ada yang sakit…, apakah kiai langsung membawa putranya ke dokter atau ke rumah sakit begitu saja, atau juga melakukan dialog dengan bu Nyai, akan dibawa ke dokter siapa, rumah sakit mana, kapan mau diperiksakan?” Sebagian peserta diam, sebagian lainnya menjawab, diobrolkan dengan bu Nyai. Akh…, sesuai dengan yang saya kehendaki jawabannya.

Pertanyaan kedua aku lemparkan dengan rasa yang lebih berani. “Ketika hari lebaran dan akan membeli meubel baru, apakah kiai langsung pergi sendiri ke toko meubel, memilih model sendiri, memilih warna yang disukai?” Jawab yang sama saya dapatkan, diaolog dengan bu Nyai. Lalu saya bilang, soal jender sesungguhnya adalah soal bagaimana setiap persoalan diselesaikan dengan dialog. Jender adalah sebuah konstruksi yang memberikan ruang keputusan hanya kepada laki-laki dan perempuan hanyalah tinggal menerima keputusan itu.

“Wah, kalau begitu kita sudah jender!” Kata beberapa peserta dengan puas.

Dengan kaitkata ,

2 thoughts on “Gambar Alat Vital

  1. Andrew Anandhika Wijaya mengatakan:

    lha saya kalo gambar pemandangan selalu pantai je…

  2. Husni Mubarrok mengatakan:

    kenalan dung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: