“Pak Urip masuk koran…, Pak Urip masuk tipi…!” Suara anak-anak sambil berlarian keliling kampung. Kampung Bluwangan geger. Semua tidak percaya. Bagaimana mungkin Pak Urip tukang panjat kelapa di kampung itu bisa masuk koran, apalagi masuk tipi. Kecuali kalau dia jatuh dari pohon kelapa, lalu meninggal, mungkin saja akan masuk koran atau tipi. Lalu akan diulas panjang lebar soal kehidupannya, penderitaannya, dan semangatnya untuk menyambung hidup. Kliwon hanya tersenyum-senyum. Di kampung Bluwangan, Kliwon memang satu-satunya orang terpelajar dan satu-satunya orang yang berlangganan koran. Ia tahu betul siapa Urip yang diteriakin anak-anak kampung ndeso itu.

“Bune…, kenapa ikut longok-longok…,” kata Kliwon saat istrinya sedikit membuka pintu melihat anak-anak yang terus berteriak, “Urip masuk koran, Urip masuk tipi.”

“Itu Pakne, anak-anak itu, lho. Masak iya, Pak Urip bisa masuk koran?”

“Sini…, duduk di sampingku. Saya sudah lama, dan selalu meminta njenengan untuk baca koran. Tapi kok ya nggak pernah mau,” kata Kliwon sambil melambaikan tangan ke arah istrinya. Yuk Nah manut, mendekati suaminya, dan duduk di samping kirinya. Ada rasa canggung, pagi-pagi begini, sudah duduk berduaan dengan suami di teras rumah. Oalah, apa kata tetangga nanti, bagaimana pandangan orang-orang kampung tentang dirinya. Perempuan yang tidak tahu pekerjaan, pagi-pagi malah ongkang-ongkang kaki. Dia juga merasa malu, bagaimana kalau Ninda dan Maksum melihatnya. Apalagi rambutnya masih basah setelah shampoan tadi subuh. Ah…, nanti mereka berpikir yang bukan-bukan. Kalau saja tangan suaminya tidak segera mencegahnya, sudah sedari tadi Yuk Nah beranjak pergi.

“Pak Urip yang masuk koran itu, Urip yang jaksa, Urip yang dipasrahi rakyat untuk mengembalikan uang negara karena kasus BLBI. Jadi bukan Urip tetangga kita itu,” jelasnya.

“Tetapi banyak orang tidak percaya…,”

“Tidak percaya kalau jaksa itu bisa disuap. Saya juga tidak percaya, Pakne,” potong Yuk Nah. Setahu Yuk Minah, pada waktu Pak De No mau menyuap Jaksa supaya membebaskan anaknya yang maling pisang di rumah Tuan Bedjo, tidak mau sama sekali. Bahkan Pak De No ikut dipenjara karena dituduh hendak menyuap jaksa.

“Wealah, siapapun bisa melakukan korupsi. Asal ada peluang, kesempatan dan ada yang untuk dikorupsi. Lha, wong pegawai rendahan saja, karena tidak punya kuasa ke anggaran, mereka juga korupsi…, korupsi waktu.”

“Orang tidak percaya, kalau Urip itu akan benar-benar bisa dijerat dengan pasal-pasal tentang korupsi. Nih, berita hari ini saja ditulis, sebelum KPK bertindak, pihak kejaksaan sudah melakukan permeriksaan internal.”

“Bagus to Pak, mereka itu khan sensitif,” sambung istrinya.

“Kalau maunya itu bagus. Tapi orang menduga itu tahapan cara persiapan agar para jaksa yang jumlahnya 35 orang itu, tidak bisa dikategorisasikan koruptor.”

“Pertama, untuk membela nama baik kejaksaan. Kedua, kalau terbongkar, jangan-jangan memang 34 jaksa yang lain terciprat. Celaka lagi, kalau Ketua Kejaksaan Agung juga ikut merasakan, meskipun mungkin dia tidak tahu, kalau sebagian dana yang pernah diterima merupakan hasil suapan dari orang-orang yang terkena kasus.”

“Rumit…, Pak Ne.”

“Rumit…, makanya saya tidak percaya.”

“Saya juga tidak percaya.”

“Apa yang tidak dipercayai?”

“Kalau Pak Ne jaman menjabat dulu, tidak pernah korupsi. Tapi saya tidak tahu uang mana yang hasil korupsi.”

Kliwon bersungut. Ada suara tercekat dalam tenggorokannya. Matanya kosong memandang ke depan. Di kejauhan, masih terdengar sayup, suara anak-anak, berteriak “Pak Urip masuk koran…, Pak Urip masuk tipi,” sambil berkeliling kampung.[]