Saya tidak tahu menahu, kenapa Aris Munandar (Alm), memilih saya menjadi salah satu dari lima belasan santri yang lain untuk menjadi peserta pelatihan penelitian bagi santri pada tahun 1985. Asal tahu saja, Aris Munandar adalah guru Bahasa Indonesia, sejak saya kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah [setingkat SD] sampai kelas 3 Madrasah Aliyah [setingkat SMU]. Menurutnya, kegiatan pelatihan ini dilakukan atas kerjasama LPSM di Jakarta, LP3ES. Nama LP3ES bagi saya memang sama sekali tidak asing, karena saya sudah terbiasa membaca PRISMA dan beberapa buku terjemahannya, antara lain Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire, seorang pendidik rakyat yang cemerlang dari Brazil. Sampai saat ini saya selalu kagum dan menggunakan cara berpikirnya dalam praktek-praktek pendidikan rakyat.
Sebagaimana layaknya seorang santri, tidak ada kesempatan untuk mengatakan tidak terhadap permintaan—mungkin lebih tepat perintah—itu. Selalu lekat dalam pikiran tentang kitab Ta’alim Muta’alim—sebuah kitab kecil yang menjadi panduan utama dalam mengatur relasi guru-murid, termasuk akibat yang mungkin timbul ketika melakukan perlawanan terhadap guru. Ilmu yang dimiliki tidak akan bermanfaat, salah satu akibatnya. Oleh karenanya, hampir tidak ada dialog mengenai apa yang diajarkan oleh ustadz, meskipun terjadi ketidaksetujuan cara pandang. Hanya satu kalimat yang selalu muncul di akhir proses belajar itu, “fahimtum”, dan kami secara bersama-sama dengan suara sekuat-kuatnya akan menjawab, “fahimna”. Selesailah segala urusan dan persoalan untuk proses mengaji saat itu. Kita bisa beristirahat, menikmati makanan masakan sendiri, nasi liwet dengan bumbu beberapa tetes minyak kelapa, nikmat. Lalu, duduk berjajar, menikmati rokok secara bergiliran, sehisap demi hisap, hingga habis batang rokok itu sampai ke akar-akarnya. Caranya, tentu dengan menjepit batang rokok dengan dua batang sapu lidi.
Saya cukup serius mengikuti pelatihan ini, bahkan menurut saya, yang paling serius di antara para peserta yang lain. Apalagi, memang harus jujur diakui, selama lima hari mengikuti pelatihan, saya tidak harus memasak sendiri, karena makan pagi, siang dan malam, ditanggung Aris Munandar. Sudah bisa diduga, keseriusan itu membuahkan kerepotan selanjutnya, saya harus menjadi ajudan Aris Munandar, ketika ia hendak menulis laporan mengenai keberhasilan pengembangan ekonomi di Pesantren Al-Qadariyah asuhan KH. Zainul Jinan, Gunung Balak, Lampung Utara. Tetapi, lagi-lagi saya tidak memiliki peluang untuk menolak, kecuali hanya menempatkan kebersediaan saya dalam kerangka pengabdian seorang santri. Beberapa bulan kemudian, Aris Munandar menunjukkan majalah PESAN yang diterbitkan oleh LP3ES—belakangan saya tahu, majalah ini diterbitkan berkaitan dengan proyek pesantren yang dikembangkan LP3ES. Saya pun tidak mengajukan protes, ketika di akhir laporan, yang salah satunya menulis mengenai ternak kelinci australia itu, nama saya sama sekali tidak tertulis.
Waktu terus berjalan, sebagai seorang santri, saya kembali ke habitat semula, tanpa mengingat sama sekali soal-soal yang pernah diajarkan dalam pelatihan penelitian itu. Bahkan ketika saya harus membuat Paper—semacam tugas akhir yang harus ditulis untuk menyelesaikan masa belajar di Madrasah Aliyah—tidak pernah memanfaatkan pengalaman dari pelatihan penelitian ini. Saya tenggelam dalam keseharian seorang santri, mencuri kelapa milik kiai, mencuri pisang hasil curian santri yang lain dari ladang kiai, dan sesekali membuat kaget santri lain yang sedang mengintip santri putri. Atau memasukkan bangkai tikus ke bak mandi, karena kebetulan santri yang akan piket mengisi bak besok hari tidak disukai oleh para santri yang lain. Semua berjalan begitu saja, “enjoy aja lagi”, kata sebuah iklan produk rokok di stasiun televisi swasta.
Akhir 1986, tepatnya bulan Nopember, saya kembali mendapatkan perintah untuk mengikuti pelatihan di pesantren. Kali ini yang menyuruh bukan lagi Aris Munandar, tetapi Muhammaf Haryanto—yang ini putra kiai, kualitas maqom-nya tentu saja jauh lebih tinggi, dan sudah barang pasti, akibatnya juga akan lebih berat jika dilakukan penolakan. Pelatihan kali ini waktunya lebih lama, sepuluh hari. Bukan main. Meski saya sudah lulus dari Madrasah Aliyah, tetapi saya masih tinggal di Pesantren, dan tentu saja kali ini, saya sudah mendapatkan gelar baru, ustadz. Harap maklum, meskipun menjadi ustadz, di mata kiai dan putra-putri kiai—tentu termasuk para menantunya, hehe—saya tetap saja berstatus santri.
Dalam mengikuti pelatihan, sebagaimana khas pemikiran santri waktu itu, yang terbayang pertama kali tentu saja, akan menikmati sarapan, makan siang dan makan malam yang lebih enak ketimbang masakan dari dapur umum, bahkan mungkin perubahannya bisa mencapai 750%. Bayangkan, untuk sarapan saja, biasanya hanya menggunakan tempe goreng, yang diiris dengan pisau yang ekstra tajam, sehingga hasilnya sangat tipis. Kalau saja tidak dibungkus dengan tepung beras, bisa dipastikan irisan tempe ini sudah hancur lebur pada saat digorengnya. Dalam pelatihan ini, saya bisa bebas memilih lauk pauknya, bermacam-macam dari tempe yang irisannya 10 kali lebih tebal, daging ayam, sapi dan ada juga ikan air tawar. Sayurnya beragam-ragam pula, ada es buah dan beraneka buah-buahan yang diiris dan disusun rapi.
Nama pelatihannya sangat mentereng dalam ukuran waktu itu, “Pelatihan Motivator Pengembangan Masyarakat dan Perlindungan Konsumen Pedesaan”, kerjasama antara P3M [Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat] dan YLKI [Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia]. Saya perhatikan secara sungguh-sungguh proses pelatihannya, cara-cara melatih para fasilitatornya senada dengan buku yang saya baca, Pendidikan Kaum Tertindas. Eit, benar-benar tidak diragukan lagi. Mantap, dan keuntungannya, saya tidak terlalu sulit melakukan penyesuaian gaya belajar yang sangat bertolak belakang dengan tradisi pesantren. Begitulah, Mansour Faqih [Alm], Roem Topatimasang dan Widjanarka ES, cukup sukses, tidak saja mengenalkan gagasan-gagasannya, tetapi juga memamerkan model proses belajar mengajar yang setara dan egaliter. Tetapi, satu hal yang saya ingat benar, meski melakukan pelatihan di pesantren mereka tidak pernah tampak melakukan shalat.
Rupanya, setelah pelatihan kedua inilah, saya mulai bisa memanfaatkan pelatihan penelitian yang sebelumnya pernah saya ikuti. Saya mulai memiliki ketrampilan menulis laporan kegiatan. Secara rutin, saya mengirim berita kegiatan ke Majalah PESAN, Dinakima Pesantren—yang ini diterbitkan oleh Unit Pengembangan Dokumentasi dan Informasi (Unit D) P3M yang berpusat di Pesantren Tebuireng dan juga tabloid Warta NU—waktu itu masih menggunakan logo jagat dan bintang sembilan. Sedangkan berbagai gagasan baru yang dikembangkan dalam pelatihan kedua, memberikan dorongan bagi saya untuk mulai menulis artikel opini mengenai berbagai problem sosial yang saya publikasikan melalui koran harian Lampung Post. Belakangan saya juga menulis pusi dan cerpen, serta cerita bersambung di harian yang sama. Saya sungguh-sungguh merasa menjadi ustadz yang sama sekali berbeda dengan para ustadz yang lain, termasuk dibandingkan dengan Aris Munandar, guru bahasa Indonesia di pesantren saya.
Perbedaan itu juga terjadi dalam proses belajar mengajar saya di pesantren. Saya selalu membuka ruang dialog setelah berbuih-buih menjelaskan materi pelajaran. Dari sinilah saya menyadari, keseganan, rasa hormat, dan kewibawaan tidak benar jika hanya bisa dibangun dengan jalan kekuasaan dan kekerasan. Semuanya busa dibangun dengan menunjukkan kapasitas intelektual dan pengetahuan. Celakanya, kata Michel Focoult, pengetahuan itu sendiri adalah kekuasaan. Matilah daku, kali ini.[]


jadi: ketidak mau tahuan adalah pembangkangan, kebodohan adalah pemberontakan dan tindak makar. mejawab “la fahimna “adalah subversib,
dalam kitab ta’lim muta’lim.