Media Kampanye Hak Reproduksi [HIV dan AIDS], Gender dan HAM

Cekal

In Celoteh on 21 Desember 2007 at 12:32 pm

Sudah lama Maksum yang mahasiswa–tetapi sudah sulit untuk melakukan aksi-aksian, karena banyak temannya harus seruis belajar, agar tidak kena DO, akibat waktu studi yang terus dipersingkat–tidak mendengat istilah CEKAL, dalam pemberitaan di Indonesia. Tetapi, seminggu lalu, ia membaca kembali terma itu. “Butet si raja monolog dicekal dalam pentas SARIMIN,” kata Ninda, gadis yang selama ini digadang-gadang untuk dijadikan pacar Maksum.

“Tidak mungkin ada cekal di zaman seperti sekarang ini,” bantahnya tidak percaya.

“Walah dalah, masak gak percaya?” kata Ninda. Bulat mata tajamnya menatap lurus di lingkar tengah mata Maksum berlama-lama. Ada keburaman di sana. Ninda tidak tahu pasti, apakah buram itu karena debu jalanan atau karena memang mencerminkan hati Maksum yang buram.
“Sabar, saya bukan gak percaya dengan informasimu, Nin,” sahutnya.

“Kupikir kamu sudah tidak percaya denganku lagi,” kata Ninda dengan nanda suara mengendor dari ketegangan. Mata bulat jernih itu beralih ke gelas berisi es jeruk di depannya.

Ketika makan malam, Maksum mengatakan soal cekal-cekalan ini kepada bapaknya, Kliwon. Meski dia sadar benar tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari bapaknya, tetapi cita-cita luhurnya untuk tetap memberikan pencerahan kepada orang tuanya, memaksa dia untuk bercerita.

“Bapak sudah mendengar soal Butet kena cekal di Jawa Timur?”

“Wakakakakakkaka, memang bapakmu kamu anggap sudah out of date mengenai issue politik di negeri carut marut ini?”

Nah, benar khan, batin Maksum, yang dia dapatkan buka komunikasi yang harmonis, tetapi pertentangan yang langsung tegang tanpa proses pemanasan sama sekali. Fitri, anak perempuan Kliwon, cengar-cengir melihat wajah butut Maksum, dan sulit untuk memulai kata-kata lanjutan.

“Saya bahkan sudah sms-an sama Butet, kalau soal itu,” lanjut Kliwon. SMS-an, kapan bapaknya kenal sama Butet? Akh, Maksum tak habis pikir, selama ini Bapaknya tidak pernah bercerita kalau dirinya kenal juga dengan si Raja Monolog itu. Tidak mungkin bapak kenal.

“Lho, emang Bapak kenal sama dia,” tanya Maksum panas hati. Bagaimana tidak, dia saja yang mahasiswa baru mendengar informasi ini dari Ninda calon pacarnya, bapaknya malah sudah sms-an sama Butet.

“Wakakakakkaa, bapakmu ini khan aktivis tahun 80-an, nak,” katanya santai.

“Persoalan yang juga serius saat ini, tidak saja soal cekal terhadap aktivitas berkesenian, tetapi juga soal kebebasan informasi di negeri ini,” lanjutnya.

“Padahal kamu tahu khan, kebebasan informasi merupakan satu-satunya keberhasilan gerakan sosial tahun 1998, yang dianggap sebagai momentum politik paling maju dengan tumbangnya Soeharto.”

“Ingat, ya, tumbangnya Soeharto, bukan tumbangnya sistem yang dikembangkannya. Kamu tahu, pemenangan Soeharto atas Time, pemenjaraan mantan PU Radar Jogja, merupakan dunia gelap kebebasan informasi kita.”

“Yang terakhir adalah, perseteruan yang sekarang sedang menghangat antara Tempo dan Asia Agri, karena pemberitaannya itu,” kata Kliwon, sambil menyeruput teh gula batunya.

“Bahkan itu melibatkan dua perguruan tinggi raksasa, UGM dan UI yang melakukan penelitian atas pemberitaan Tempo itu. Para intelektual kita sedang juga ambil resiko politik yang sangat besar,” kali ini Kliwon sambil mengelus dada.

“Pak, kurapnya kambuh,” kata Yu Nah.

Kliwon masam, Maksum senyum simpul, dan Ninda beringsut pergi meninggalkan meja makan. Mereka semua paham, sang Ibu bukan sedang tidak paham, elusan di dada suaminya itu sebagai rasa duka yang mendalam, tetapi isyarat untuk menghentikan diskusi di meja makan, karena waktu terus merambat malam. Ia ingin segera mengakhiri diskusi itu, dan beranjak ke ruang keluarga untuk mendengar informasi dari televisi.