Di desa Bluwang, segala tindakan manusia bermuara. Penduduk desa itu tidak saja mengenal tentang hal baik dan buruk, tetapi mereka juga menjadi obyek dari perilaku kebaikan dan keburukan. Terus menerus, tak terhenti. Penduduk desa tak ubahnya seperti relief dari sebuah kehidupan panjang. Batu cadas hitam dan keras dalam kelok sungai peradaban manusia. Setiap kali mereka menerima kebaikan dan setiap kali pula mereka menerima keburukan dari air mata gemawan. Jernih, keruh. Memabukkan, menyakitkan.
Penduduk desa Bluwang terombang-ambing dalam arus sejuta ىrasa. Kelahiran. Kehidupan. Penderitaan. Kematian. Berbagai peristiwa terjadi, yang mereka sendiri tidak pernah mengerti dari mana dan mau ke mana arah mata anginnya. Mereka seolah hanyalah sebuah kitiran raksasa. Roda gendeng kehidupan. Berputar-putar dengan deru angin dipaksakan. Mereka berkubang dalam genangan ketidaktahuan, dalam ketidakpastian. Timbul tenggelam antara gelombang kejujuran dan kedustaan.
Semua berapasang-pasang dan menari-nari di pelupuk mata. Tetapi mereka tetap bertahan dan berjalin tangan serta berhimpit badan. Meski kedukaan selalu menebar, ketika kematian terus menerus menjerat saudara serta handai tolan mereka. Sahabat-sahabat mereka, dalam kelaparan, dalam sakit. Dalam derai air mata dan rintihan berkepanjangan.
Mereka menjadi kalam suci dan hembusan kebersamaan di tengah pusaran penipuan, manipulasi dan korupsi. Penduduk desa Bluwang menjadi tapak-tapak kekejaman peradaban. Saksi dari keterkaparan dan kematian sebuah anak zaman. Atau malah penduduk desa Bluwang itu sendiri anak zaman yang terkapar dan mati. Anak zaman yang telah kehilangan kompas dan arah angin sejarahnya. Anak zaman dengan ketersesatan dan disesatkan. Anak zaman dengan kesejarahan hidup samar-samar dan gelap. Mereka teralienasi, tersingkir dari sejarahnya. Raib dari peradaban sendiri.
Kecelakaan sejarah memang telah terjadi di desa terpencil, terisolir, terasing. Desa Bluwang, menjadi catatan tersendiri dari terkuburnya satu generasi dengan keragaman tingkah laku, semangat hidup dan gelora perjuangan untuk mempertahankan hidup. Meski selalu dalam kepahitan dan penderitaan. Air mata adalah sahabat terkarib bagi mereka. Bahkan menangis menjadi seperti tertawa, peristiwa keseharian.
Hari لini, Wati dan Wita menghilang dari desa Bluwang. Tak ada yang tahu rimbanya. Murca, raib seperti ditelan bumi. Kepedihan kembali membaluri perasaan penduduk desa Bluwang. Walaupun gadis kembar itu lahir dari rahim pekerja seks pinggiran jalan. Buah dari suatu kejalangan dan kelelakian budaya atau malah korban gerusan sejarah yang tak pernah mau bersahabat dan arogan terhadap mereka. Dan pada hari ini pula, Gino pergi meninggalkan desa. Ia berlari kencang dan ketakutan, ketika penduduk desa Bluwang mengejarnya. Gino yang menderita eksibinonisme, harus menerima kemarahan penduduk, karena memperlihatkan alat kelaminnya kepada gadis tetangganya.
”Menjijikkan. Ini sangat menyakitkan,” ujar Ningsih. Perawan desa itu terus menangis dipangkuan emaknya.
”Sudahlah nDuk, kamu harus melupakannya,” kata emaknya mencoba menghibur anak gadisnya, dengan rasa keibuannya.
”Tetapi…, Mak…,” lanjut Ningsih.
”Ya…, ya…, Emakmu mengerti perasaanmu,” potongnya.
”Emakmu kan juga perempuan, sama seperti kamu. Perasaan perempuan itu di jagad mana saja sama. Perempuan benci kekerasan, benci ketidakadilan dan benci kesewenang-ىwenangan. Perempuan adalah kelembutan abadi, duta kasih sayang Tuhan. Puncak dari semua perjuangan.”
”Kalau perempuan hanya menangis saat kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan penindasan menimpanya, maka selama itu pula perempuan akan terendahkan.”
”Emakmu ini belajar dari pengalaman dan penderitaan hidup, nDuk.”
”Tetapi…,” sela Ningsih.
”Tetapi apalagi? Kata ’tetapi’ adalah kekalahan. Ia adalah alasan dari ketidakberdayaan dalam kenyataan. Ia adalah selimut kelemahan agar tetap dianggap kuat dan memiliki kemampuan.”
Kata ’tetapi’ bagi perempuan tua itu, sungguh suatu kepengecutan. Kemunafikan terselubung. Sehingga, sudah saatnya kata ‘tetapi’ dihapus dari segala macam buku bacaan. Dari dunia kebahasaan.
Akhirnya, Ningsih tidak lagi bergairah mengungkapkan perasaannya. Sikap kebijakan dan keibuan emaknya justru menorehkan kesakitan tersendiri dalam hatinya. Ia terjungkal dalam لarus kuat kata-kata. Keibuan yang menggelisahkan. Kebijakan yang menyakitkan. Kalau emaknya menghendaki dihapusnya kata ’tetapi’ dalam bahasa, maka Ningsih menginginkan agar semua kata-kata dihapus dari kehidupan. Ningsih diam. Ningsih benar-benar menghapus semua kata-kata miliknya. Bayangan wajah Gino yang merah dan menegang terus mengikutinya. Ningsih ingin menjerit. Menangis. Tetapi kata-kata tidak lagi ia miliki.
Sebulan telah berlalu. Penduduk telah melupakan Wati dan Wita. Mereka juga melupkan Gino dengan kelainannya. Ningsih yang bisu pun tak lagi menjadi pembicaraan. Kepedihan bagi penduduk desa Bluwang memang begitu cepat terlupakan, karena kepedihan dan kesedihan merupakan peristiwa keseharian. Sehingga kehidupan penduduk desa Bluwang sudah biasa kembali, seperti waktu-waktu sebelumnya. Laki-laki kuli pemecah batu bertelanjang dada. Tubuh-tubuh hitam dan berkeringat. Lukisan dari sebuah kesengsaraan dan kepedihan hidup. Penderitaan yang berkepanjangan.
Asap rokok. Suara batuk. Pisuhan dan sumpah serapah. Semuanya menyatu, menyepuh warna sebuah sejarah penduduk desa Bluwang. Penduduk yang mencari. Satu generasi yang gelisah. Anak zaman yang kehilangan. Entah di mana Tuhan, ketika kelaparan mengamuk. Kematian menjemput. Perut buncit. Bibir kering dan pecah-pecah.
Kedukaan. Kepedihan. Tangis. Dahak kental. Ingus. Air mata. Baju kumal. Menggumpal dan melahirkan keputusasaan. Kepasrahan dan upaya, menjelma menjadi kekecewaan dan keraguan. Penerimaan atas nasib, telah berubah menjadi protes. Menggelora dan membuncak. Mancabik. Mendobrak pintu langit. Mengguncang matahari. Menghitamkan awan.
Entah siapa yang memulai. Penduduk desa Bluwang berkumpul di lapngan desa. Di atas rumput yang menguning. Di bawah matahari yang merah. Laki-laki. Perempuan. Anak-anak. Rumah-rumah kosong. Pintu dan jendela tak terkunci lagi. Terbuka lebar-lebar. Menganga. Ternak berkeliaran. Ayam, kambing, anjing, sapi, satu satu mati. Batu-batu tak lagi bisa dipecah. Keras. Hitam dan menantang. Laki-laki. Perempuan. Anak-anak. Tangan-tangan yang merah dan terkelupas. Mata yang luka dan berair. Keringat yang mengucur. Panas. Menyengat dan menggigit.
Desa Bluwang membusuk. Lalat dan burung gagak berpesta pora. Penyakit menular mewabah. Binatang ternak tak ada lagi. Air tak setetes pun ditemukan. Mengering. Sumur-sumur dan sungai-sungai. Penduduk desa Bluwang meminum keringatnya sendiri. Penduduk desa Bluwang memakan daging saudaranya sendiri.
Di lapangan desa, penduduk memukul-mukul dada. Mencabik-cabik pakaian. Tulang iga dan tulang pipi yang menonjol. Kulit-kulit kering berkeriput dan mengelupas. Bintik-bintik biru menyebar di tubuh mereka. Merata. Penduduk desa berteriak-teriak. Meloncat. Lalu membanting diri di atas tanah.
Entah siapa yang memulai. Laki-laki. Perempuan. Anak-anak. Mereka berlarian ke arah Barat Daya. Laki-laki. Perempuan. Anak-anak. Dalam ketelanjangan. Mereka mengejar kepedihannya sendiri. Mengejar bayang-bayangnya sendiri. Tangis bayi menghentikan lari mereka. Mereka lantas berputar-putar. Mencari-cari. Tangis bayi yang nyaring dan menggairahkan. Bayi yang montok dan berair. Mata penduduk menyala-nyala. Air liur mengalir. Tenggorokan, bergerak naik turun. Laki-laki. Perempuan. Anak-anak. Dan Partiyah, dengan wajah hitam ketakutan berlari ke arah Timur sekencang-kencangnya. Ia mendekap bungkusan kecil, kain yang kumal. Dan tangisan bayi itu samar-samar hilang***

