Kalau saja suasana gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang, kita bisa menyaksikan bagaimana wajah Kliwon ketika itu. Mata memerah yang tampak dipaksakan, bulir mata yang juga enggan untuk meninggalkan penamnpungannya dalam buluh-buluh kelopak mata. Tetapi untunglah, semua tidak terjadi. Perlahan Kliwon mengeluarkan tangannya dari sakunya. Telinganya menangkap baik-baik suara itu, mencoba mengenali, siapa di antara tetangganya yang memiliki cengkok, nada, lekuk suara seperti itu.
Kliwon Menghayal tentang People Power (3)
In Celoteh on 8 November 2009 at 6:35 pmKliwon Menghayal Tentang People Power (2)
In Celoteh on 7 November 2009 at 10:08 am
Malam benar-benar gelap. Tidak ada korek api apalagi sentolop di tangannya. Hanya karena sudah beribu-ribu kali kaki tua itu melangkah, menelusuri jalan setap menuju sungai itu saja, membuat Kliwon seperti tak merasa kehilangan jejak. Alur jalan itu tampak begitu mudah diikuti, dilalui. Karena kebiasaanya itu saja, Kliwon seperti bergerak sendiri, meski akal sehatnya menolak berulangkali, tetapi kaki itu seakan melangkah sendiri. Kaki Kliwon bukanlah sepasang kaki yang mampu seperti itu.
Kliwon Menghayal tentang People Power (1)
In Celoteh on 7 November 2009 at 12:00 am
Tidak seperti biasanya, Kliwon sangat serius nonton TV. Perubahan tabiat Kliwon tentu saja memancing seluruh anggota keluarganya. Yuk Nah, istri Kliwon menjadi sedikit khawatir, bisa jadi akan ada pekerjaan ekstra, bikin kopi. Setidaknya ada alasan bagi Kliwon untuk meminta tolong diseduhkan kopi, “tanggung, Bu Ne. Tolong, ya, kopi nylekithonya,” kata Kliwon seringkali.

